Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Agustus 2021

Saya Harus Terapi Psikologi (?) - part 4

photo from here

Halo, Assalamualaykum,

Bismillahirrahmanirrahiim..

Inner child yang terluka. Mungkin harusnya seperti ini judulnya.

Saya sama sekali tidak menyalahkan orang tua saya atas kondisi saya sekarang. Mereka juga mungkin besar dengan kondisi yang jauh berbeda dengan dimana dan kapan saya lahir. Saya tidak menyalahkan mereka yang mungkin ilmu parenting tidak semodern sekarang dan jauh lebih mudah di akses dibandingkan kala mereka membesarkan saya. Saya hanya tidak ingin anak saya merasakan apa yang saya rasakan.

Berulang-ulang saya berusaha berdamai dengan diri saya, tapi yang saya rasakan malah sebaliknya. Saya semakin sedih. Hati saya semakin sakit. Saya semakin ingat bagaimana rasanya dicubit sampai memar, saya masih ingat rasanya dimarahi hanya karena jam 5 sore belum pulang, saya di siram air, dikunci dalam ruangan sendirian, mainan saya dirusak sampai patah. Bahkan saya ingat sekali, karena kebiasaan saya menulis diari, saya menulis bahwa saya tidak mau menjadi anak dari kedua orang tua saya. Saya ingat semua situasinya, saya ingat bagaimana rasanya, saya ingat semuanya. Bahkan belakangan ini, tiba-tiba saya mempertanyakan kenapa saya bisa berjalan sendiri ke sekolah, padahal saat itu saya masih TK. Hujan pakai payung atau jas hujan sendirian. Sekali lagi saya tidak menyalahkan kedua orang tua saya. Saya sangat bersyukur bagaimana saya bisa sampai saat ini juga bukan lain karena orang tua saya. Saya hanya menyayangkan, kenapa saya menerima hal tersebut sebagai hal negatif. Padahal mungkin maksudnya bukan seperti itu, saya yakin saya dimarahi pun pasti ada salah saya, saya yakin saya disakiti pun pasti ada salah saya. sampai saat ini, memori indah saat saat saya kecil masih belum bisa saya temukan kalau bukan saya lihat foto-foto masa kecil yang tidak banyak tersisa.

Ketika dicari-cari kenangan manis mana yang berbekas dalam otak saya, saya hanya menemukan sosok kakek dan nenek saya. Bagaimana ekspresi mereka ketika menjemput saya, menunggu saya datang dirumahnya, memasakkan makanan yang saya suka, mengajak saya ke pasar. Memori saya kejeblos selokan, kemudian diajak ke WC untuk cuci kaki saja bahkan saya ingat. Bagaimana sukanya saya memainkan perut nenek saya yang gemuk. Bagaimana ekspresi kakek saya ketika saya pindahkan channel tinju favoritnya. Saya ingat semuanya. Walau sebenarnya semua itu pun saya alami dengan kedua orang tua saya.

Disaat-saat tertentu, saking marahnya saya pada kondisi yang tidak ideal, saya hanya menerima saran sabar-sabar-sabar. Banyak orang yang meminta saya sabar, tanpa sadar lebih jauh apa yang saya rasakan. Banyak yang meminta saya sabar tapi tidak membantu dengan solusi real yang saya butuhkan untuk kondisi ini. Tidak banyak yang saya lihat cukup membantu saya yang seperti sedang berperang dengan diri saya. tidak banyak rangkulan yang saya terima, saya malah semakin banyak menerima ‘penegasan’ yang membuat saya semakin terpojok dan tidak becus menjalani hidup saya saat ini.

Semakin hari saya semakin marah, emosi semakin tidak bisa saya kontrol hanya karena masalah sepele. Saya mudah sekali marah dan menangis. Ada saat-saat tertentu dimana amarah saya rasanya sudah sampai kepala, saya menyakiti diri saya. Saya memukul diri saya, saya mencubit kulit tangan saya, saya melukai diri saya sampai saya tidak sadar kalau itu meninggalkan luka-luka yang kena air sedikit saja perihnya minta ampun. Saya sampai se sakit itu. Saya tidak sadar banyak melakukan self harm, sempat terpikir untuk berhenti berkeluarga dan sendirian  saja menjalani ini semua.

Walau sekarang saya tidak bisa dalam sehari saja tidak ngobrol dengan keluarga saya, walau melalui daring, tetap saja, kami keluarga yang tidak sempurna. Kami juga memiliki family issue yang paling buruk. Saya hanya takut, apa yang saya alami sekarang, dialami juga oleh adik-adik saya. bahkan sempat, satu bulan atau dua bulan sebelum nikah saya tidka menghubungi calon suami saya hanya karen asaya takut menjadi ibu yang sakit. Saya takut menjadi sosok yang tidak saya inginkan. Saya takut tidak bisa menjadi istri yang lembut dan ibu yang penyayang. Saya takut saya hanya mencukupi anak saya dengan materi, sedangkan secara moril tidak terpenuhi dengan baik.

Dan benar saja. Saya tidak pernah merasa penuh. Saya bingung caranya bahagia bagaimana. Yang saya tahu hanya ketika saya tidak melakukan apa-apa, tidak berpikir apa-apa, itu adalah waktu terbaik saya.

Karena hal ini, akhirnya saya memutuskan untuk mulai konseling. Saya mau jadi ibu yang penuh, ibu yang bahagia, ibu-istri-anak yang tahu caranya bahagia, bahagia yang sama-sama.

Wassalamualaykum..

Jumat, 20 Agustus 2021

Saya Harus Terapi Psikologi (?) - part 3

 

photo from here

Halo, Assalamualaykum,

Bismillahirrahmanirrahiim..

Dicerita kali ini, sepertinya saya akan lebih menggebu-gebu. Menceritakan apa yang saya rasakan sebenarnya tidak mudah. Apalagi dihalaman ini yang memungkinkan ada yang membaca. Tapi entah mengapa, rasanya saya harus menuliskan ini.

Dimulai dari MPASI, dan lika-liku MPASI yang bahkan sekarang ini saya harus bolak-balik ke dokter tumbuh kembang. Konsultasi mengapa anak saya tidak bertambah beratnya bahkan sampai 5 bulan belakangan ini.

Saya seperti menyerah untuk menyuapi anak saya sampai saya benar-benar bisa mengendalikan amarah saya. Yap! Semenjak MPASI dan anak semakin aktif dan paham apa yang dia inginkan, saya menyerah untuk menyuapinya. Menghindari waktu makannya. Saya takut sekali saya sampai menyakiti anak saya. Selama perjalanan MPASI sampai sekarang pun saya merasa berjuang sendiri. Suami yang mungkin sebenarnya membantu, tapi tetap saya merasa berjuang sendiri dibalik semua ini. Menu dan lain-lainnya saya siapkan sendiri, dan efek dari ini semuanya pun saya pikirkan sendiri.

Ketika waktu makan, dan kondisi tidak ideal. Saya bisa saja teriak karena anak menutup rapat mulutnya, saya memaksanya membuka mulut, saya marah – yang benar-benar marah, saya banting makanannya, saya tingkalkan anak saya, saya abaikan entah dia menangis atau tidak. Saat itu sangat kalut dan saya benar-benar tidak bisa mengendalikan emosi saya. Saya marah, saya kesal, dan satu sisi saya takut anak saya akan semakin tidak tumbuh. Bahkan, di area me time saya (intagram hehe), banyak sekali orang yang saya tidak ijinkan muncul. Apa yang mereka perlihatkan membuat saya semakin marah dan sedih dalam waktu bersamaan. Anak tumbuh besar dan sehat, makan dengan tenang, makan pintar sampai habis, mengunyah, kenaikan tektur yang terlihat mudah, saya tidak mau melihat itu. Saya block semua akunnya. Saya bahkan sempat menyumpahi, sewaktu-waktu ia akan mengalami kesulitan yang bukan main oleh anaknya suatu saat nanti.

Dibalik kemarahan dan kekesalan itu, ada lagi yang semakin muncul ke permukaan dan membuat emosi saya semakin tidak stabil. KISAH KECIL SAYA. Yak! Sisi kanak-kanak saya. Entah bagaimana awalnya bisa menghantui, tapi hati saya semakin sakit. Seketika saya marah pada anak saya, saya tinggalkan, saya sendirian, dan seketika itu pula semua memori itu tiba-tiba datang.

Saya marah, kenapa saya merasakan ini? Saya menangis. Saya kira akan mereda, ternyata semakin menjadi. Semakin banyak memori buruk yang muncul. Sampai saya bertanya pada diri saya sendiri, bagian mana di otak saya yang menyimpan memori manis tentang masa kecil saya? Saya mencari-cari memori itu entah kenapa tidak ada yang hubungannya dengan ibu saya, sebagian hanya dengan ayah saya, dan sebagian besar dengan kakek nenek saya.

Orang banyak mungkin menyebutnya dengan luka inner child.

Wassalamualaykum..

Kamis, 19 Agustus 2021

Saya Harus Terapi Psikologi (?) - part 2

 

Photo from here

Halo, Assalamualaykum,

Bismillahirrahmanirrahiim..

Setelah di part satu saya cerita bagaimana pengalaman hari melahirkan, selanjutnya saya akan cerita bagaimana saya melewati tahapan selanjutnya, Menyusui.

Saya merasa dari awal saya sudah tidak IMD dan merasa tidak bisa latch on dengan maksimal sehingga prosesnya tidak optimal. Padahal ASI saya mulai tidak terhingga beberapa hari setelah anak saya pulang ke rumah. Saya berjuang keras bagaimana harus latch on  sampai saya merasa kesal dan marah kepada anak saya karena tidak membuka mulutnya lebar-lebar.

Masa-masa yang sangat saya benci. Masa-masa yang bahkan sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat foto-foto anak saya diusia itu. Masa dimana saya merasa tidak di support secara mental oleh keluarga saya, padahal harapannya saya stay setelah lahir di rumah orang tua harapannya bisa di support secara mental. Sehingga saya bisa merasa lebih bahagia dalam proses dan peran yang baru ini. Nyatanya saya sering sekali menangis dan merasa semua orang hanya memperhatikan anak saya. Padahal yang lahir pun bukan hanya anak saya, tapi saya juga, saya terlahir menjadi ibu di hari yang sama dengan kelahiran anak saya.

Orang-orang menyebut apa yang saya rasakan dengan Baby Blues Syndrom. Tapi saya tidak peduli. Saya biarkan seolah-olah rasa ini normal dan dilain waktu pun pasti akan hilang dengan sendirinya.

Hari-hari saya merasa saya harus belajar ini dan itu, tapi nyatanya saya terlarut dalam ilmu yang saya paksakan. Menyusui, konselor ASI, botol ASI, pembiasaan siang dan malam, juga semua hal yang tidak ideal saya coba hindari. Saya hanya mengharapkan kesempurnaan dari proses ini dan lupa bagimana menjadi bahagia saat menjalankannya. Ini poinnya. Saya lupa bagaimana cara menikmati proses dan peran baru ini.

Sesaat setelah saya menikmati masa menyusui saya, tibalah masa MPASI. Dan disinilah semua hal menjadi pemicu emosi saya. Saya merasa gagal luar biasa. Saat anak benar-benar tidak mau makan apapun yang saya suguhkan. Tumbuh gigi, mengemut makan, melepeh, menyembur, GTM, sehat, kemudian sakit lagi, sehat, sakit lagi.

Di titik ini semua seperli melahirkan sesuatu yang baru lagi dalam diri saya dan inilah awal mula saya memutuskan untuk konsultasi psikologi.

Oke, lanjut next yaa..

Wassalamualaykum.


Selasa, 03 Agustus 2021

Saya Harus Terapi Psikologi (?) - part 1

Photo from Here

 

Assalamualaykum,

Bismillahirrahmanirrahiim..

Karena saya merasa blog ini sudah sangat tidak aktif dan bahkan sepertinya tidak akan ada yang buka kecuali untuk beberapa orang yang keponya sudah akut.

Ada banyak cerita terlewatkan tidak lagi saya abadikan disini, cerita ketika hamil, pandemi, melahirkan, menyusui, mpasi, dan segala halnya tentang bagaimana saya terlahir kembali sebagai orang baru, sebagai karakter yang baru. Seorang ibu.

Beberapa bulan yang lalu, saya memutuskan untuk konsultasi ke psikolog tentang apa yang saya rasakan, sesuatu yang sepertinya tidak bisa saya kendalikan. Melihat kondisi seperti ini, jelas saja konsultasi dilakukan online.

Semua berawal dari rasa yang entah bagaimana datangnya, di ujung kehamilan tiba-tiba ada rasa tidak siap dan ketakutan untuk menjadi ibu. Dan semua rasa menjadi semakin tak beraturan ketika persalinan itu selesai. Perut yang besar tiba-tiba kempes, semua proses persalinan selesai. Tapi perasaan saya tidak baik, saya bahkan merasa seolah memaksa diri untuk menangis karena terharu, tapi tidak bisa. Saya tidak langsung melihat anak saya, saya entah mengapa merasa kesepian, saya merasa ada yang hilang.

“Fatih lengkap, a?”

“Alhamdulillah.”

“Berapa kilo?”

“2,1 katanya.”

Jleb! Kok bisa kecil sekali?! 12 jam sebelum dilahirkan bahkan masih terpantau 3,1 kg berdasarkan bayangan janin.

Setelah itu, rentetan catatan yang tidak sesuai ekspektasi terjadi satu-persatu. Saya kesulitan pelekatan, tidak sampai menjadi lecet memang. Tapi anak saya bingung puting. Bingung puting karena yang pertama kali nempel di mulutnya bukan puting ibunya, yang dihisap pertama kalinya bukan air susu ibunya, melainkan SUFOR!!! Katanya karena BBLR anaknya harus makan dan tersuplementasi dengan baik. Saya percaya. Tapi saat itu saya tidak menyiapkan BOTOL susu, jadi saya pakai botol yang satu paket dengan pompa asinya. Tiga hari anak saya di perina, karena ada indikasi infeksi dari Ketuban Pecah Duluan yang saya alami sebelum kelahirannya. Tidak ada satupun perawat yang mengajari saya pelekatan, ibu saya juga terlihat cemas tanpa alasan dan sama-sama gugup karena hal baru ini. Dan bahkan di hari anak saya lahir TIDAK ADA DOKTER ANAKNYA!!! Saya pulang kerumah tanpa anak saya, dengan kondisi benang jahitan masih melekat saya bolak balik RS. Tetap berusaha menyusui anak saya, walau susah sekali. Tetap mengirim asi perah dengan harapan anak bisa minum dan kenal dengan saya.

Sampai sekarang, saya berjanji, kalau tidak ada RS lain di dunia ini selain RS itu, barulah saya balik lagi menginjakkan kaki disana. Apalagi ini pengalaman melahirkan saya yang pertama, dari kehamilan yang sangat saya tunggu.

Walau disamping itu, anak saya tumbuh sehat dan baik, lengkap sempurna dan selamat. Bahkan sekarang sudah 14 bulan. Tapi tidak bisa saya lupakan bagaimana perasaan saya saat itu. Mohon maaf.

Nanti saya cerita, kisah selanjutnya yaa alasan saya akhirnya memilik konsultasi ke psikolog.

Wassalamualaykum..

Kamis, 06 Oktober 2016

Pesan Singkat Untuk Kamu

photo from here

Dear,
sayangku.

Dulu, hampir tepat setengah dekade yang lalu, aku selalu memiliki banyak padanan kata yang artinya selalu sama. Entah itu akan menjadi jatuh cinta atau rindu. Tokohnya pun hanya kamu. Tidak ada orang lain.

Dulu, hampir tepat setengah dekade yang lalu, aku benar-benar tergila-gila dengan khayal yang ku buat seperti nyata. Kamu datang padaku dengan perlahan tapi tau persis bagaimana perhitungannya. Sampai pada akhirnya kamu dan aku ada hubungan. Semacam cinta yang tak lagi bertepuk sebelah tangan.

Senin, 22 Agustus 2016

Apa? Bagaimana?



Apa yang kamu lihat dari foto ini?
Bagaimana kau ceritakan ya pada yang lain?



----


Pandeglang, 22 Agustus 2016

Selasa, 16 Agustus 2016

Menunggu di Tapal Batas




Biar batas tetap bersama horizon di ujung pandang mata. 
Biar garis tetap bersama asa-asa yang tiada purna.

--


Balaraja, 16 Agustus 2016

Senin, 15 Agustus 2016

Rindu dan Ruang Waktu

Randomly from google

Aku tidak pernah tau kalau waktu menghantarkan kita sampai waktu yang tak pernah kita sangka. Membawa serta dirimu dalam sepersekian waktu hidupku juga satu yang tak pernah aku kira akan sampai pada titik dimana aku kembali diam-diam merindukanmu.

Doa memang hantaran terindah dikala ruang waktu yang tak lagi berdekatan. Tapi sosok hadirmu disampingku, menemaniku makan, menamaniku berjalan, dan semua masa sampai saat kau memeluk dan menyentuhku sembari mengatakan kalau akulah wanita yang kamu harapkan, adalah saat yang ingin selalu ku ulang-ulang sampai bosan merasa kebosanan karena dirinya sendiri.

***

Serang, 15 Agustus 2016

Minggu, 14 Agustus 2016

Satu dan Dua

pic from here

Satu 

Aku hanya tak bisa memahami, bagaimana bisa jalan yang sudah jauh ini harus berhenti karena waktu yang dirasa tak mau bersabar. Bayang-bayang cahaya hanya menyilaukan aku yang kemudian terpojokkan. Ada banyak hal yang ku tahu salah, tapi masih saja kulakukan. Ada banyak keriyaan dan kemunafikan yang ku tampakkan hingga hati tak bisa lagi bersabar kemudian berontak. Menjeritkan aku ingin segalanya tapi aku lupa, kalau aku tak pernah memberikan apa-apa.


***

Sabtu, 21 November 2015

What's Next??

photo from here

Ada banyak kebiasaan yang kemudian hilang perlahan; menulis, menggambar, dan crafting (walau belum sesering gambar dan menulis). Banyak hal juga yang menjadi pembelajaran untuk saya yang Alhamdulillah sudah selesai kuliah dan officially sarjana dua bulan yang lalu.

Menjadi sarjana memang tidak mudah, tetapi lebih sulit lagi ketika saya sudah sarjana. Apa yang akan saya lakukan selanjutnya? Bekal apa yang sudah persiapkan? Sudahkah saya siap menuju dan melangkahkan kaki di universitas yang sesungguhnya; universitas kehidupan? Apakah saya menjadi karyawan dan merintis karir untuk menjadi menejer? Atau apakah saya menjadi pengusaha yang berusaha merintis dari bawah dan menekuninya hingga saya bisa menjadi seseorang yang dapat memberikan lapang pekerjaan bagi orang lain? Ataukah mungkin menjadi seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan diri sepenuhnya untuk keluarga?

Minggu, 27 September 2015

Ketika Hari Itu Datang

kamu - ayahku

Aku menuliskan ini secara sadar. Disaat pertama kalinya lagi aku merasakan langit mendung kemudian turun hujan begitu derasnya. Pandeglang, 27 September 2015.

Tulisan ini masih menyisakan getaran yang datang dari cerita beberapa hari belakangan ini. Siapapun tahu, bahkan semesta laman ini pun mengerti bahwa kamu adalah sebagian besar inti cerita dibalik kisah-kisah roman didalamnya. Kisah yang mulanya tidak bisa kusampirkan dengan jelas, kisah yang mulanya hanya ada aku dan kamu sampai pada akhirnya menjadi kita (meski belum sesempurna itu). Kisah yang mulanya menceritakan bagaimana aku menyimpan kekaguman tiada henti pada sosok yang selisih usianya bahkan jauh dibawahku. Kisah yang menyiratkan bagaimana aku menyimpan semua sisi romansa dalam bentuk yang sengaja ku fiksikan, agar tidak ada satupun tepat sangka atas rasa yang mulanya ku tutupi dengan rapat. Dan beragam kisah emosional yang sulit kuceritakan secara langsung padamu. Sampai hari ini. Kamu. Inti ceritaku.

Saya Sudah Kuliah 4 Tahun, Blog!


Sarah - Futry - Saya di hari kelulusan Futry.
Semarang, 7 September 2015.

Halo blog! Apa kabar? Begitu banyak kisah yang tidak sempat aku ceritakan padamu. Begitu banyak waktu yang ku lewatkan tanpa ku libatkan kamu didalamnya.

Tahun ini bagai tahun yang begitu luar biasa. Satu persatu kemudahanNya terlimpah secara cuma-cuma untukku. Sahabat, guru, dan segala macam hal rasanya Ia berikan untukku dan mengantarkan aku hingga menjadi seorang Sarjana Teknik. Kalau dikatakan apakah aku salah seorang mahasiswa super dengan IPK cumlaude? Tidak. Apakah aku salah satu seorang mahasiswa super rajin hingga bisa lulus tepat waktu? Tidak. Apakah aku seorang mahasiswa dengan kemampuan yang diatas rata-rata sehingga bisa menjadi satu-satunya lulusan yang tidak cumlaude? Tidak. Entah apa yang mengantarkan aku sampai sejauh ini. Aku hanya merasa Allah begitu luar biasanya memberikan langkah yang mudah, urusan yang senantiasa Ia perlancar, dan dorongan yang luar biasa melalui hamba-hambaNya yang memang lebih luar biasa daripada aku.


Sarah - Futry - Saya di hari kelulusan saya dan Sarah.
Semarang, 8 September 2015.

Aku pernah bercerita sebelumnya, ada dua orang terdekat selama masa kuliah. Dan keduanya inilah yang senantiasa mendorongku menjadi salah satu lulusan yang bisa dikatakan tidak ada apa-apanya ini. Mereka yang selalu mengingatkan aku tentang orang tua, masa depan, dan segala kemungkinan terbaik yang sebenarnya sama-sama belum pasti. Mereka hanya mengajarkanku bagaimana caranya tetap berusaha disegala situasi. Mereka yang mengajarkan aku bahwa semua harus dicoba terlebih dulu, hasilnya bagaimana yaa tinggal pasrah.  Segala bentuk kekuatan optimisme sebagian besar, bahkan hampir semuanya berasal dari dua anak ini.


Sarah Bonita dan Futry Tria Christy.


Aku dan kedua manusia yang kadang menyebalkan ini, seolah tersesat di satu universitas pilihan kedua, fakultas dan jurusan yang sama. Teknik Lingkungan – UNDIP. Hidup selama empat tahun di satu atap yang sama, setiap tahap yang kita lalui hampir selalu sama. Kuliah – kosan – kelas – kerja praktek – topik TA – laboratorium penelitian – lulus – (Insya Allah) wisuda, BERTIGA!
Yang kemudian sadar, kalau kami sama sekali tidak tesesat. Tapi ibi takdir. Semacam garis yang sudah Ia tentukan untuk kami, tentunya.

Ah! Kalau nanti sudah tidak dengan mereka ............ bagaimana ya?



“Semoga Allah senantiasa jadiin kalian orang yang tetep rendah hati dan menggantikan segala kekuatan yang kalian kasih buat gw dengan sesuatu yang jauh lebih besar. Semoga semakin didekatkan dengan segala hajatnya. Semoga JODOH semakin dekkaaaaaatttt. Aamiin.”

Minggu, 05 April 2015

1000 hari

Aku tidak banyak menuliskan hal buruk tentangmu. Entah mengapa menjadikannya abadi dalam tulisan hanya akan kembali melukaiku atau kembali membuka lebar luka yang sudah mengering.

Bersamamu memang tidak mudah; sulit dan kerasnya luar biasa. Aku bahkan hampir menyerah di bulan-bulan pertama dengan semua yang ada pada dirimu dan diriku sendiri, walau sampai akhirnya kita masih sepakat untuk tetap berjalan bersama.

Sudah lebih dari seribu hari, kedekatan kamu dan aku semakin terlihat luar dalam. Tidak pernah ada cemburu, tidak pernah ada prasangka akan khianat, tidak ada rasa apapun selain mencoba yakin dan membiarkan semuanya berjalan sesuai dengan kehendakNya. Sudah banyak pembicaraan masa depan terkait kamu dan aku. Sudah banyak pecahan yang kamu dan aku coba rangkai agar terasa lebih nyata dan indah. Sudah banyak waktu yang berlalu tidak begitu saja.

Sudah banyak hal yang bahkan aku butuhkan, Ia sediakan dengan adanya bantuan darimu. Satu yang belum juga kamu berikan padaku, kesediaanmu menemui kedua orang tuaku. Mengingat hari yang sudah banyak bersamamu, semua keluarga bukan tidak mungkin menunggu kamu datang memperkenalkan diri, "Aku pasti ke rumah, hanya saja belum waktunya". Selalu seperti itu jawabanmu dan aku masih menunggu waktu itu.
Sampai suatu ketika, kamu menyatakan bahwa dalam waktu dekat ini akan ke rumah. Aku? Entahlah, aku bahkan menahan haru luar biasa. Kalau aku harus memilih kata untuk menggambarkannya, aku menyerah, aku tidak tahu persis rasanya seperti apa. Hanya saja hatiku bergemuruh, senyumku berkembang seiring dengan rasa yang ku coba alirkan dalam genggaman tanganku padamu. Kamu tersenyum, lembut dan yakin. Aku melihat keseriusan dari tatapmu, yang kemudian hanya membuatku malu ditatap seperti itu.

Sayang, apa aku sudah siap?

Senin, 02 Maret 2015

Tadi Malam

Kadang lidah memang lebih tajam dari sebilah pisau yang bahkan baru saja selesai di asah. Aku tak pernah permasalahkan apa yang kamu ucapkan setajam apapun itu, sesering apapun itu, tapi kalimat yang semalam terlontar begitu menusukku. Siapapun orang paling dekat denganku selama apapun mereka mengenalku tidak pernah mengatakannya langsung didepanku. Sekalipun dibelakang, paling tidak aku tidak tahu, itu hanya merupakan bagian dirinya.

Tenang saja, aku tidak akan menceritakannya disini. Bagaimanapun, kamu adalah orang yang paling aku hormati.

****

Terlebih mungkin seperti ini rasanya melontarkan kata atau kalimat dengan ringan, seringan kapas tapi perihnya bagai terbilah pisau pada orang lain. Aku mungkin pernah disatu waktu atau mungkin berkali-kali melakukan apa yang baru saja ku alami belakangan ini. Menyakiti hati orang lain disaat ia tak siap menerima memungkinkan berbekas lama, meninggalkan sisa perih meski di permukaannya. Meski ia berkali-kali mengatakan ia tidak masalah dengan apa yang baru saja didengarnya, hati orang siapa yang tahu.

Betapa berharganya pelajaran tadi malam. Sikap adalah kunci utamanya, untuk melihat situasi dan mengerti waktu. Yaa walaupun sikap bukan perasaan, paling tidak kita masih memiliki pikiran untuk menentukan sikap yang bagaimana seharusnya.

Terimakasih atas pelajaran berharga ini..

Senin, 15 September 2014

Learn. Live. Hope


photo from here

Learn. Live. Hope.
Tiga kata yang saya pilih untuk menjadi tagline baru di blog tercinta, setelah Ila’s Diary yang bertahan selama sekian tahun. Ada beberapa hal yang memang ingin saya bahas mengenai tiga kata itu. Oke check it out!

Learn.
Setiap manusia pasti memiliki cerita bagaimana ia hidup sebelum hari ini. Learn atau belajar merupakan satu hal yang penting untuk menyambung cerita antara kemarin dan hari ini, begitu juga untuk hari yang akan datang. Pentingnya pembelajaran mengenai hari kemarin bisa menjadikan satu hidup yang bekualitas pada hari ini atau hari esok. Sebenarnya saya pun belum sepenuhnya menerapkan pembelajaran ini dalam keseharian. Tak ubahnya sifat manusia yang sering luput dan khilaf, begitu pun saya, saya masih sering kali mengulangi kesalahan di hari-hari kemarin sampai akhirnya mengalami kesialan atau ketidakberuntungan dalam hal yang sama. Keledai saja tidak mau jatuh dalam lubang yang sama bukan? Sayangnya saya terkadang atau bahkan seringnya masih saja seperti itu, jatuh dalam lubang yang sama. Hal yang itu-itu saja. hahaha
Tapi beruntungnya, ada banyak hal yang membuat saya bisa sedikit-sedikit menahan apa yang tidak seharusnya saya lakukan. Ada seseorang dan beberapa orang yang terus mengingatkan saya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, walau rasanya melawan ego itu sulitnya luar biasa. Tapi paling tidak, saya sudah tahu, saya sadar akan kesalahan yang sudah dilakukan. Harapannya, yaaa jangan sampai terulang lagi.

Senin, 03 Februari 2014

Beginilah Caraku

photo from here

Kalau malam mempunyai bintang dan rembulan untuk melengkapinya secara romantis, aku masih tak punya apa-apa selain kata, tanpa bisa kau balik rasa. Seberapa banyak kata dan senyuman berartikan cinta, semua tak lebih dari omong kosong, kalau tak juga aku tunjukan seperti orang kebanyakan.

Kalau mereka memiliki banyak cara dalam mengelu seseorang dalam satu tanggal, aku masih tidak berkutik dari sebuah kertas dan pena, menuliskan namamu sebanyak mungkin dalam benak yang ku coba tuangkan dalam kata. Lagi-lagi kata. Berjuta aksara yang teruntai, akan tak lebih dari omong kosong kalau lagi-lagi tak bisa balik kau rasa. Satu bukti yang orang lain juga bisa lihat.

Tapi aku menyukai rahasia, ada cara yang aku punya dan sangat diharapkan kau mengerti tanpa harus terlihat lebih oleh siapapun. Ada rahasia tentang cinta yang kamu, aku, dan Ia saja yang tahu. Cara bagaimana aku mencintaimu.

Senin, 25 November 2013

Diatas Kaleng Besi Tua Menuju Bakahuni

photo from here

Aku duduk manis menahan ngilu di sendi tulang
Di sepanjang jalan menuju Bakahuni
Masih diatas kaleng besi tua,
Beradu gaduh, terhempas gelombang

Kemudian,
Aku menerawang jauh entah kemana
Membuang pandang yang mungkin sampai ujung lengkung langit yang tak terlihat,
di sela kotak kaca buram,
(masih diatas kaleng besi tua menuju Bakahuni)

Buah pikir dalam memori ku berhamburan
Rasanya, seperti buih ombak yang mencium ujung kaleng besi tua ini

Minggu, 24 November 2013

Saya, Sebab dan Akibat

photo from here

I
Menuliskan tentang rasa yang kemudian beradu kata dengan pikir memang tiada habisnya. Saya manusia, tentu saja sangat lemah. Saya membutuhkan banyak petunjuk dan kekuatan yang sebenarnya Tuhan sudah memberinya lebih awal sebelum saya terlahir dan melihat cahaya di luar kandung ibu. Tapi sayang, saya terlalu terlena, kemudian terbuai dengan gerak tubuh yang mendunia. Lupa akan hukumNya.

II
 “Jangan meremehkan. Jangan bertindak egois.”
Membuatnya meleburkan tanda seru memang terlihat aneh dan berbeda. Beranggapan sebuah pengingat, tapi sayangnya tidak lebih dari sebatas kalimat yang menerangkan bahwa langkah terbuat dari kaki kanan dan kiri. Bahwa perbuatan sangat berarti sebuah hak; saya, kamu dan mereka.

Jumat, 22 November 2013

Mercusuar

photo from here

MERCUSUAR.

Kami menamakannya dengan Mercusuar. Tercetus di Semarang pada tanggal 22 November 2013. Dengan harapan tetap bisa memberikan cahaya di kegelapan malam, ketika banyak yang berjuang untuk kehidupan.

Kami tidak mengharapkan apa-apa dari terbentuknya pergerakan ini. Kami hanya ingin, anak-anak itu sama-sama merasakan apa yang kami rasakan. Kebahagiaan kecil yang sederhana berlandaskan pendidikan dan masa depan bagi anak-anak yang belum seberuntung kami.

Selasa, 19 November 2013

Cinta dan Rindu Itu Sederhana


photo from here

Bersama denganmu dalam waktu yang lama bahkan seperti merangkai hasrat yang sempat tertahan dalam jeruji yang dibuat-buat. Dirasa cukup sulit. Ck!

Aku tahu, kamu terus melolongkan teriakkan nakal yang sedikit-sedikit menggodaku untuk menyentuhmu yang masih putih. Kamu pun tahu, aku memang sedang membisu, membungkam corak hitam untuk setidaknya menyapamu yang masih polos. Menarikan sesuatu diatasmu. Aku diam, karena tidak tau apa-apa. Terlalu banyak yang hilang, walau rindu menggerogoti setiap waktu yang segaja dibuat bersambung.