Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Desember 2013

C.E.M.B.U.R.U

photo from here

Cerita terkaan kadang terdengar seperti benar
Enggan mendengar yang lain jadinya

Mengadu pikir yang kian tak beraturan
Benak juga kian digerayangi sudah oleh resah

Untaian kalimat rahasia, juga seperti benar rahasia
Racaukan lagi rasa 

"Usahlah kau simpan hati, ia milikku."



Senin, 02 Desember 2013

Terkait Puisi


foto diambil oleh panitia
Kemarin saya sempat berpartisipasi di acara kampus di bidang Baca Puisi. Hasilnya baru akhir pekan ini diumumkan. Saya sudah melakukan yang terbaik menurut saya, dan apapun hasilnya Allah lah yang Maha Baik, yang Maha Mengerti apa yang terbaik bagi umatNya. In Shaa Allah, saya menerimanya.

Jujur saja, saya tidak pandai dalam hal puisi, baik menulis atau membaca saya masih harus banyak belajar. Ketika kemarin mendengar komentar juri yang 'pedas', ingin rasanya saya belajar pada satu komunitas khusus atau seseorang yang memang master ddi bidang ini, kemudian belajar bagaimana cara membaca puisi yang baik dan bisa dinikmati oleh orang lain.

Senin, 25 November 2013

Diatas Kaleng Besi Tua Menuju Bakahuni

photo from here

Aku duduk manis menahan ngilu di sendi tulang
Di sepanjang jalan menuju Bakahuni
Masih diatas kaleng besi tua,
Beradu gaduh, terhempas gelombang

Kemudian,
Aku menerawang jauh entah kemana
Membuang pandang yang mungkin sampai ujung lengkung langit yang tak terlihat,
di sela kotak kaca buram,
(masih diatas kaleng besi tua menuju Bakahuni)

Buah pikir dalam memori ku berhamburan
Rasanya, seperti buih ombak yang mencium ujung kaleng besi tua ini

Sabtu, 20 April 2013

Catatan Hujan Sore


photo : random from google

Apa? Tanya kenapa
Dari balik ucap ada lisan dalam hati
Manusia akan tetap sama manusia
Bukan hanya tidak saling tahu
Tapi banyak praduga – duga
Membuat manusia lain dalam dirinya
Dalam tubuh kecil, lusuh, dalam balutan serat sutra
Meninabobokan yang tak mau tidur
Memberi makan yang tdak lapar,
Kemudian lelah dalam pencarian

Rabu, 04 April 2012

Ini Mungkin Curhat Pagi

Lihat saja sampai kapan mampu berputar saat rentang keluh meradang terjang.
Kamu atau saya masih seperti ini, bukan?
Bicara hati belum mengeti saat diam.
Iya, hanya belum.

Itu saja.

photo from here

Jumat, 30 Maret 2012

Sahabat Seperti Setia

photo from here

(lagi)

Membendung riuh gemerlap.

Berlari hingga habis keramaian.

Rabu, 14 Maret 2012

I Miss You

photo from here
Raja mejara bayang

Jauh pandang
Jauh sampai

Aku ..
Kamu..

Selebihnya,
Hanya rindu sampai habis..

Sabtu, 10 Maret 2012

Puisi Berlabel "Kamu"

photo from here

Biar mendenting tanpa irama.
Biar mengaduh tanpa suara.
Hanya kembali menggantung, 
Meresah.

Selasa, 06 Maret 2012

Sama Seperti Waktu

photo from here

Ada rangkul dalam pilu?

Ada pilu dalam rangkul?

Biar lalu, hati berlalu.

Hilang sudah?

Biar saja dulu.

Semoga hanya fase.

Sama seperti waktu.

Aku Menangis

photo from here
Meski terang.
Sepi meraja.
Makin pekat.
Pilu meradang.


Gila.

Sabtu, 03 Maret 2012

Terkadang Hanya Butuh Seperti Ini

photo from here

Tanpa kata.

Bungkam dalam kelu.

Buncah dalam gebu.


Tanpa tergesa mengeja.

Tuhan tahu rasa selalu.

Minggu, 12 Februari 2012

Berawal Dari Tanah Pertama Hujan

photo from here
Baiklah. Sebelum liburan saya dengan bangganya membuat berbagai rencana dan target-target supaya liburan gak membosankan. Dan ternyata, bawaan males saya lebih besar godaannya dibandingkan apapun. Ckckc omong doang -_-

Akhirnya, tadi pagi dengan gak sengaja saya posting di group Kiral. (Jadi Kiral ini sebenarnya singkatan dari Komunitas Sastra Analis. Yaaa kegiatannya posting info menulis, sharing artikel tentang menulis, posting karya pribadi, atau sekedar meramaikan dengan postingan yang sebenarnya gak jelas. Kiral ini baru berdiri satu tahun ke belakang kalau gak salah, dan kemarin tanggal 5 Februari 2012, baru dipilih ketua dari Kiral ini, dan kami menyebutnya Jendral.) sepenggal kisah, eh sepenggal puisi, eh bukan juga, apa ya nyebutnya, yaaaa pokonya saya post di Kiral begini:

Selasa, 07 Februari 2012

Jangan Dulu Mainkan Hati

photo from here


Bergeming dalam takut ketika harus gelapkan pandang.
Melelapkan lelah dalam opera kepedihan yang dibuat sengaja.
Ia hanya menghidupkan bayang tak berharap.
Yang menyapa tanpa melirik.
Yang mengulik luka tanpa menyapa.
Ah entahlah..
aku tersenyum saja,
Ia dilenakan cinta hingga hampa.
Dan katanya,
Ia hanya tak ingin terlelap bermandikan bunga.
Yang mengurai alir basahi pipi tanpa sadar,
Ketika sejenak terjaga.

Jumat, 20 Januari 2012

Kamis, 19 Januari 2012

Kemarin waktu ada penyambutan wisudawan/ti di kampus, awalnya saya diminta untuk baca puisi sebagai acara selingan. tapi mungkin karena waktu yang terburu-buru akhirnya gak jadi. hehehe tapi ini dua puisi yang saya buat secara kilat sekilat-kilatnya, tanpa mikir. gak tau untung gak tau engga deh hehehe salah satu puisi dibawah ini gak jadi dibaca, malu banget sebenernya kalau bacain, mana ada orang tuanya lagi hhmmm saya belum berpengalaman -_-

photo from here

Minggu, 08 Januari 2012

Maaf

photo from here



Meragu aku kalau yang kau bilang bukan aku, memang aku
Tapi bagaimana bisa ketika keliru,
Malah menghantam pilu?

Baik hilang,
Sesal hantui..
Maaf, aku hanya kurang hati-hati..

Jangan lagi marah berkepanjangan..
Aku masih mungkin resah sampai esok karena ini..




Minggu, 04 Desember 2011

Jauh Dekat, Tuan Nyonya Sama Saja

photo from here



Dari jauh, kanan aku tengok..
Menertawakan Tuan yang mulai linglung
Merasa mulai pilu mengusik relung, katanya..
Apa?! Entahlah..
Kenapa?! Entahlah..
Terbahak aku dibuatnya..
Bukankah gudang berisakkan kilau?
Masih bisa menghantar tujuh turunan, rasaku..
Kenapa linglung?
Mengina diri karena takut habis?
Tidak akan secepat yang kau bayangkan, Tuan..
Kau juga yang menjilat habis rapahan derita yang makin jelata
Apa yang kurang?? Lebih dari cukup, bukan??

Ketika rayu kiri, aku kembali melirik..
Masih liar setan merasuk kepercayaan Tuhan
Nyonya jumawa menghisap aroma mulia logam
Menyibak legam dengan rajutan berlian
Aku… Aku?? akankah habis pikir?
Rasanya iya..
Barapa banyak aku berpikir..
Berapa lelah aku menyeka peluh..
Adakah harganya? Sangsi lagi!

Gemuruh di hatiku rasanya sudah hampir mati
Atau sudah mati?
Menghujam raga, jatuhkan asa
Decak kagum, mungkin..

Kalau saja Tuan Nyonya aku bisa tampar,
Aku berlari lebih dulu lelapkan kalap dunia Tuan dan Nyonya
Adakah pilu yang begitu ringan terlempar belas kasih peduli?
Adakah hinanya rasa merintih diri yang terlalu banyak lupa?


Ada tangis yang masih mengukir kukumu dengan sabar
Ada banyak yang meronta aking, sementara engkau manyantap emas, Nyonya..

Ada banyak pilu, menopang rintihan sanak anak..
Ada banyak miskin, yang kau lupa riangkan juangnya, Tuan..

Ada apa? Entahlah..




Senin, 28 November 2011

Aku Suka!

claim this, please..



Aku suka berjaket jeans.
Bukan aku cantik,
Tapi aku suka berjaket jeans.


Aku suka memakai converse.
Bukan aku nyaman,
Tapi aku suka memakai converse.


Jaket jeans kebesaran.
Converse sobek.
Tapi aku suka mereka.


Aku berjalan.
Aku berlari.
Aku suka dengan mereka.


Ibu,
Terimakasih jaket dan sepatu barunya.
Tapi aku suka dengan jaket kebesaran dan sepatu sobekku.


Ayah,
Tabungkan saja kalau memang itu untukku.
Uang itu masih terlalu besar dan aku enggan memegangnya.
Karena aku suka jaket kebesaran dan sepatu sobekku.


Aku bukan mengada-ngada,
Aku benar suka..


Tertawa saja,
Karena ini tersirat..









Sabtu, 26 November 2011

Aku Dulu, Anakku Nanti

photo from here



Aku bermain dibalik kokoh dahan
Mengokohkan bumi..
Riang bersama bayu menyibak halus ku
Karena rindang hijau dedaun
Yang sejukkan ibu bumiku..
Saat aku masih setinggi paha ibuku..

Masih hangat pagi..
Aku bersenandung
Berirama pipit leluncat di ranting
Beradu harmoni dengan alam
Dahan, dedaun, ranting,
Menambah nada alam senandungku
(lagi) saat aku masih setinggi paha ibuku..

Penjualan bukit beradu saing
Membentangkan kaca tinggi-tinggi
Menahan panas dibawah langit ibu bumiku
Mengusik banyu meninggi
Banjir, longsor, gempa bumi,
Salah siapa?
Ini saat aku mulai setinggi ibuku..

Mencari daun bersindar di ranting?
Aku sangsi masih hijaukah?

Mencari ranting pada dahan?
Masih kokohkah?
Aku juga sangsi..

Apalagi harus mencari dahan di hutan??
Semua terlahap..

Bagaimana nasib saat anakku setinggi pahaku?
Bagaimana nasib cucuku saat setinggi paha anakku nanti???





Jumat, 25 November 2011

Tuhan Masih Sayang Aku Hidup

photo from here



Aku masih disini berjuntai pada detakan nadi
Yang menua dan kalut asa
Yang kian mengadu mimpi serasa nyata kini,
Bukan nyata nanti yang masih semu
Ini karena Tuhan masih sayang aku hidup

Tujuh belas aksara berlagu perulangan tahun
Mengiang di penghujung sisi waktu
Yang tak seorangpun tau akan datang
Tuhan Maha Pandai dalam berahasia
Entah kapan kobar yang masih membara mati karena usia
Aku hanya ingin membahagiakan dulu
Siapa?
Semua.
Semua yang Tuhan bagikan bahagiannya masing-masing
Semua yang Tuhan mungkin titipkan padaku
Ini karena Tuhan masih sayang aku hidup

Biar habis waktu,
Tetap ada doa sealir aku mengadu hidup, sebelumnya..
Biar habis waktu,
Aku telah siap menghadap..

Tujuh belas aksara berlagu perulangan tahun,
Di tahun ke puluh kedua..





#puisi untuk kakak terhebatku :))
Selamat Ulang Tahun. ka lina jawa..
hehehe tellaaaaatt..




#request puisi terpenuhi yaa ;)









Percayalah!

photo from here



Sebidang kelu di manis bangsa
Menggoda rayu semakin tak kuasa
Manis hilang pahit gahang mengunci
Indah hilang, mulai pintar terkotori
Aku bukan tak peduli,
Hanya masih belum mengerti,
Bagaimana bisa satu rangkai terbagi menjadi rangkaian?
Mengina nadi memicu perpecahan
Adakah banyak yang salah dengan setulang jiwa
Yang mengaku-ngaku kawula Bangsa??
Meranakan nyata yang kian mengabstak..
Buta karena apa?? Entahlah..
Lupa perjuangan kalap kejayaan
Jaya?? Pernah?? Pernah!
Saat kakek nenek belum menua


Mangajukan satu langkah,
Bukan seribu tahun harus berjalan
Hanya memadu kasih sampai semua merangkai indah
Buktikan angan-angan, buktikan slogan
Kemudian bergerak sampai habis sangsi

Tuhan akan mengembalikan jiwa anak pertiwi,
Kelak..
Percayalah!