Tampilkan postingan dengan label Kosong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kosong. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

Untitled

photo : random from google

Selasa, 30 Agustus 2011

First Love


Cinta pertama.

Padahal Cuma dua kata, tapi panjangnya gak sebatas dua kata atau sejumlah dua belas aksara. Saya mungkin salah satu yang percaya cinta pertama gak pernah mati. Hoho mungkin bahasanya bukan ‘gak’ tapi belum. Apa emang gak akan mati ya?

Ini cerita, mulanya sejak saya kelas delapan. Yap! Jaman SMP, kira-kira tahun dua ribu enam. Saya suka sama … hmmm sebut saja Raynar, kurang lebih satu tahunan. Saya gak pernah cerita sama siapapun tentang ini. Dan ternyata dia juga suka sama saya dengan kurun waktu yang hampir sama. Akhirnya tahun dua ribu tujuh bulan dua hari ke dua, kita resmi jadian. Ini pertama kalinya saya suka sama orang, memendamnya sendiri, dan ternyata dia balik suka, bahkan berani untuk ‘menjaga’ saya. yaaaa … walau emang kilasan anak SMP, yang katanya Cuma cinta monyet.

Minggu, 28 Agustus 2011

Sampaikan Saja Salamku Untuk Rani



Entah apa yang aku rasakan ketika enam nol delapan. Mencermati mega hitam yang memudar kelabu kemudian memerah dan menunggu surya hingga hangat. Menapaki langkah diatas bumi hijau yang masih menyeka embun yang berurai menjadi air kemudian. Mendendangkan siul berlomba merdu dengan burung gereja yang beramai-ramai. Ini kata orang yang namanya memulai nikmati hidup. Tapi kataku, ini hanya bagian untuk menghidupkan hidup yang mati sementara. Bernafas. Bergerak. Berbicara. Bersiul. Tersenyum. Tertawa. Terbahak-bahak. Menangis. Mengerang rindu. Atau menderu hasrat ingin bertemu. Rani.

Hilang Satu Cangkir Kopi





Bicaralah meski kamu diwajibkan diam bahkan sampai kecupan terakhirmu pada cangkir putih itu. Aku akan tetap mangamati. Mengamati sampai habis nyaliku untuk sekedar tahu mengapa kamu terus diam dan membiarkan orang lalu lalang di depanku, menyapamu, dan aku masih kamu bekukan. Tidak! Tidak! Aku tidak akan dulu menanyakan kamu, sejak kapan aku melihatmu semakin memikat meski kita sedikitpun tak pernah bertabrakan pandang, lagi. Takdirmu mungkin bukan aku, tapi ini takdirku. Bicaralah! Kalau masih juga enggan untuk bicara, tersenyumlah sedikit ke arahku, atau tak perlu sejauh itu, meliriklah dan sadari aku duduk di depanmu, sekarang, Rani.

Rabu, 10 Agustus 2011

Sadam



Masih ada sarana yang memungkinkan saya untuk menceritakan apa yang saya simpan sendiri tentang kamu, Sadam. Tentang kamu, pria bertubuh tinggi, kurus, berkulit gelap dan berkacamata coklat. Tentang kamu yang resmi mulai bersama saya di tanggal kesebelas bulan sepuluh tiga tahun yang lalu. Tentang kamu yang menorehkan banyak bahagia untuk saya. Tentang kamu yang banyak menorehkan luka untuk saya. Tentang kamu yang lebih dulu mengenal life must go on setelas saya dengan bodohnya melepas kamu. Tentang kamu yang mungkin masih mencintai saya dengan segala keengganan kita untuk bersama lagi.

Sekarang, setelah kamu berhasil melepas saya dan pergi jauh lebih rela, kosong itu selalu kamu yang saya harap datang mengisi.

Sekarang juga, setelah saya mengutuki diri sendiri tentang kamu, masihkah boleh saya bertanya bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa yang kamu lakukan jika mungkin saja kamu merindukan saya? apa yang kamu lakukan jika kamu merasa kosong?

Kenyataannya memang harus seperti ini, saya atau kamu sama-sama menyimpan semuanya sendiri walau harus ‘terkesan’ munafik.

Menggelikan sebenarnya. Tapi, entahlah, sekali lagi bagaimana bisa saya mengerti tentang apa yang saya rasa? Atau ini Cuma perasaan sesaat yang datang karena minimnya yang harus saya lakukan di masa liburan sebelum masuk kuliah ini? hhmmmm