Tampilkan postingan dengan label Sadam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sadam. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2011

Galau Satu Hari Ini Saja..

photo from here



Kamu, saya bahkan tidak juga pernah sadar kalau kamu masih mungkin tiba-tiba datang ke dalam hidup saya, lagi, sekarang atau suatu saat nanti. Menyapa hari-hari yang (mungkin) katamu indah. Berbalas sayang dan rindu yang dulu sempat kita tau bagaimana rasanya.

Saya? apa yang bisa saya lakukan ketika tiba-tiba bayangan kamu menggoda saya untuk diam seharian, senang sendiri, atau sedih yang juga sendiri? Berucap rindu dengan selaan canda yang sebenarnya saya menerka itu benar? Saya bukan kamu. Tapi kamu tetap kamu. Memperlakukan saya seperti biasanya kamu.

Jumat, 02 September 2011

"Kamu! Ya, kamu, Raynar!"

photo from here

Seseorang pasti akan membenci saya ketika saya mulai menceritakan judul ini dan menuturkan alurnya. Entah apa yang salah dalam diri saya, meski saya begitu gila waktu-waktu lalu karena kamu. Hampir semua tema tulisan dan tema cerita saya tentang kamu dan kerinduan saya tentang kamu. Kamu hampir mendominasi setiap sisa waktu kosong yang saya punya. Kamu mengotoritasi semuanya, hingga saya lemah dan berpikir harus membenci dan menggantikan kamu segera dengan seseorang yang Tuhan titipkan untukku.

Sebagaimanapun saya menyayangi kamu, sebagaimanapun sulitnya kamu saya lupakan, tapi ketika Raynar menghubungi saya atau menanyakan kabar saya, walau via pesan singkat, ketika saya dan Raynar harus dalam satu tempat, ketika semua sahabat menggoda saya dengannya (karena kita pernah jadian), semua tentang kamu bisa hilang seketika. Dan bayangan berubah menjadi raynar. Saya tahu ini hanya sememtara, tapi cukup mengganggu.

Selasa, 30 Agustus 2011

Tentang Apa?

photo from here

Tentang itu …
Mana mungkin aku bisa berbohong!
Aku bukan terlalu lelah awalnya,
Tapi aku meletakkan diri terlalu dasar …
Lihat tersenyum,
Membangkang pada hati..
Kamu pembohong dan aku cukup tau itu!


Tentang itu …
Mana mungkin aku bisa berbohong!
Aku bukan hewan,
Tapi tepatnya hanya sedikit tak berhatii..

Karena aku malas percaya,
Sadam datang menyapa,
Aku tukar uang dengan api …
Hingga tergumung mengabu..


Tentang itu …
Akan tetap begitu,
Katanya harus berlari,
Tapi malas rasanya diri ditiduri harap lagi!


Boleh pergi  lalu lalu..
Karena tetes sudah mengeras batu,
Hati hingga beku
Kemudian membenci …


Boleh pergi kini sekarang…
Karena aku,
Punya sesuatu yang kamu sebut,
Rindu yang jauh lebih indah,
Bukan untuk di makan palsu ..


Terima kasih..

After That, I Like..

photo from here



Ada lagi,


Aku meringkuk,
bertekuk dahi di lengan sungai, disebelah Sadam.
Mencoba mendongak dagu
ketika riak mendayung selembar daun.
Masih ku meringkuk,
amati sampai habis bayang di muara.





Tak temukan makna bukan?


Baiklah,
Tiba-tiba Sadam hanya mengurai kata,
"Daun itu sedetik lalu terbuang. Mengalir diatas riak. Tenang, sampai di muara meski kadang terkoyak, terbalik. Dan tak ada gaduh, tapi sampai terhina mendiri. Bukankah begitu yang kau cermini? Nikmati hikmah dari sekedip mata. Tuhan Maha Pemaaf lagi Pemurah."


Kemudian kataku,"Iya, lalu aku terpikat masa sesudah daun itu jatuh, Sadam."



**




nb: Teruntuk Tuanku,
bagaimana kabarmu?
Sampai jumpa,setengah dasawarsa nanti..
Aku menunggumu, dibalik tebing tanpa tergesa..

Senin, 29 Agustus 2011

Pergilah! Atau Kamu ...

photo from here

Jangan hilang sampai habis saya makan. Kamu memang hanya menjual. Dan saya tetap yang menanggung. Jangan bicara sampai mual, saya hanya diam. Mau menjual lagi rasanya hampir mati mendenga.


Biar mati hingga mendenga saya berucap manis sampai tawar. Tanggap sendiri bagi kamu yang sempat menawarkan. Lelah kan? Tentu saja!

Karenanya bicaralah! Bicara! Jangan diam mengutuki kata hingga bisu! Bahkan untuk apa mengeduskan amarah dalam hati lalu menggemuk tubuh dengan dendam?? Untuk apa mengutuki diri hingga membusuk dosa?


Jangan lakukan ini pada saya yang bahkan belum sempat membuat catatan dengan tema yang berbeda.

Tinggalkan saya, Tuan..

Kalau Enggan Tinggalkan!


photo from here

Adakah jalan khusus yang saya buat untuk kamu, yang sekedar ingin merasakan betapa nikmatnya bernafas, berkedip, dan menenggakkan kepala menyapa Surya yang keemasan di tujuh dua lima tanpa sendiri??

Adakah kursi khusus yang saya buat untuk kamu, yang sekedar ingin menyandarkan tubuh, menghela nafas kemudian menariknya kembali dengan tenang, dan sedikit memijat kaki yang tak kuasa pegalnya di enam belas nol delapan tanpa sendiri, tepat di sudut ruang menjemukan??

Adakah waktu yang saya punya untuk itu?

Saya kira, biarlah peluh menyadarkan dirimu pada satu pandang yang luas. Biarlah penat merela diri pada sandaran kayu yang bahkan rapuh. Saya tahu dengan jelas kamu hanya mencoba untuk tidak sendiri. Saya bahkan lebih memahami kamu kalau kamu juga mencoba menikmati meski beberapa hal mencekik lehermu dari dalam sana. Tepat dari dalam tubuh milikmu sendiri..

Minggu, 28 Agustus 2011

Hilang Satu Cangkir Kopi





Bicaralah meski kamu diwajibkan diam bahkan sampai kecupan terakhirmu pada cangkir putih itu. Aku akan tetap mangamati. Mengamati sampai habis nyaliku untuk sekedar tahu mengapa kamu terus diam dan membiarkan orang lalu lalang di depanku, menyapamu, dan aku masih kamu bekukan. Tidak! Tidak! Aku tidak akan dulu menanyakan kamu, sejak kapan aku melihatmu semakin memikat meski kita sedikitpun tak pernah bertabrakan pandang, lagi. Takdirmu mungkin bukan aku, tapi ini takdirku. Bicaralah! Kalau masih juga enggan untuk bicara, tersenyumlah sedikit ke arahku, atau tak perlu sejauh itu, meliriklah dan sadari aku duduk di depanmu, sekarang, Rani.

Rabu, 10 Agustus 2011

Sadam



Masih ada sarana yang memungkinkan saya untuk menceritakan apa yang saya simpan sendiri tentang kamu, Sadam. Tentang kamu, pria bertubuh tinggi, kurus, berkulit gelap dan berkacamata coklat. Tentang kamu yang resmi mulai bersama saya di tanggal kesebelas bulan sepuluh tiga tahun yang lalu. Tentang kamu yang menorehkan banyak bahagia untuk saya. Tentang kamu yang banyak menorehkan luka untuk saya. Tentang kamu yang lebih dulu mengenal life must go on setelas saya dengan bodohnya melepas kamu. Tentang kamu yang mungkin masih mencintai saya dengan segala keengganan kita untuk bersama lagi.

Sekarang, setelah kamu berhasil melepas saya dan pergi jauh lebih rela, kosong itu selalu kamu yang saya harap datang mengisi.

Sekarang juga, setelah saya mengutuki diri sendiri tentang kamu, masihkah boleh saya bertanya bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa yang kamu lakukan jika mungkin saja kamu merindukan saya? apa yang kamu lakukan jika kamu merasa kosong?

Kenyataannya memang harus seperti ini, saya atau kamu sama-sama menyimpan semuanya sendiri walau harus ‘terkesan’ munafik.

Menggelikan sebenarnya. Tapi, entahlah, sekali lagi bagaimana bisa saya mengerti tentang apa yang saya rasa? Atau ini Cuma perasaan sesaat yang datang karena minimnya yang harus saya lakukan di masa liburan sebelum masuk kuliah ini? hhmmmm