Tampilkan postingan dengan label dreams. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dreams. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2019

Hari Tujuh

photo from here

Assalamualaykum,

Bismillahairrahmanirrahiim..

Tujuh mei dua ribu delapan belas, tantangan hari ke tujuh dalam sub topik melatih kemandirian. Kemarin saya sudah dapat sentilan semangat lagi untuk melanjutkan terus tantangan karena masih ada waktu sampai tanggal 12 Mei besok. Alhamdulillah saya masih bertekad sekuat tenaga, saya harus lulus dan saya harus bisa terus membiasakan hal-hal rutin yang menjadi kebiasaan saya yang baru.

Rabu, 06 November 2013

Mereka, Para Pelita Bangsa


photo from here

“Saya memang tidak pandai membaca, tapi saya ingin belajar membaca bersama-sama dengan mereka.
Saya memang tidak pandai agama, tapi saya ingin belajar agama bersama-sama dengan mereka.
Saya memang tidak pandai membuat prakarya atau kesenian lain, tapi saya ingin sama-sama belajar membuat prakarya atau kesenian lain dengan mereka.
Saya bukan orang yang baik, tapi saya ingin belajar menjadi lebih baik bersama mereka.
Saya bukan orang yang pandai dalam segala hal, tapi saya yakin bersama-sama mereka banyak pelajaran yang akan didapatkan.
Mereka, Para Pelita Bangsa.”

Jumat, 27 Juli 2012

Desainer oh Desainer


Hehehe tumben banget bawaannya ini pengen ‘curhat’ terus.

Habis liat webnya Ivan Gunawan sama Jenahara Nasution, jadi makin pengen banget bisa buat butik sendiri, dengan pakaian desain sendiri tentunya. Tapi sayangnya, saya merasa kok masih angan-angan aja yaa :(

Rabu, 13 Juni 2012

Begini, Seadanya Saja


photo from here


Saya tentu bukan penulis. Saya sama sekali bukan penulis. Tapi entah kenapa saya selalu ingin jadi penulis.

“Hanya butuh membaca lebih banyak. Maka imajimu akan bermain bersamanya dan kosa katamu semakin banyak pula.” Katanya.

Tapi nyatanya? Saya berhenti menulis. Saya hilang bersama kata yang biasanya menari dan berlari nakal kemudian berhenti dalam rangkai paragraf,  bersama imaji yang berkali-kali semakin liar. Sayangnya, saya tidak bisa menulis. Sayangnya tidak tertulis.

Kemudian saya diam, beberapa dibawah ini adalah hasil diam saya yang kemudian mati lagi.

Minggu, 28 Agustus 2011

Sampaikan Saja Salamku Untuk Rani



Entah apa yang aku rasakan ketika enam nol delapan. Mencermati mega hitam yang memudar kelabu kemudian memerah dan menunggu surya hingga hangat. Menapaki langkah diatas bumi hijau yang masih menyeka embun yang berurai menjadi air kemudian. Mendendangkan siul berlomba merdu dengan burung gereja yang beramai-ramai. Ini kata orang yang namanya memulai nikmati hidup. Tapi kataku, ini hanya bagian untuk menghidupkan hidup yang mati sementara. Bernafas. Bergerak. Berbicara. Bersiul. Tersenyum. Tertawa. Terbahak-bahak. Menangis. Mengerang rindu. Atau menderu hasrat ingin bertemu. Rani.

Rembulan, Ranah Luka, dan Sepapan Asa




Angin malam halus mengelus segaris muka sendu di kotak kecil samping daun pintu. Setangkai lengan menopang dagu mengamati lekat sabit tipis yang menggantung manis di luasan hitam pekat, berkelip gemintang. Kemudian menyunggingkan senyum pada wajah muramnya dan bersenandung lepas, tentang rembulan, ranah luka, dan asa.

“Kalau enggan, pulanglah..
Aku masih mengina ari
Terpungkur di balik purnama..
Katamu purnama segera menyirna gemintang?
Betulkah?
Bukankah masih menyisakan satu?
Kau yang ajarkan aku untuk menyebutnya kejora..
Bukankah juga usai purnama,
Ia hanya akan beristirahat demi menghidupkan lautan gemintang?
Kau, sampaikan saja
pada ramai-ramai celoteh angin gemerisik
yang menyedutkan sepi dan menggoda biduan canda.
Kalau masih ada sebatang tubuh berkobar asa,
di satu langit dan waktu yang berbeda.
Pulanglah, usah pedulikan duka yang terpikat manis,
Mulai sekarang..”

Seka basah pipi, ada gurauan di setiap jementik jari yang mengajarkan ranah luka. Dagu tak lagi tertopang durja. Tegap. Tersenyum..

Esok hari segera berganti
Demi sepapan asa..