Kamis, 06 Oktober 2016

Pesan Singkat Untuk Kamu

photo from here

Dear,
sayangku.

Dulu, hampir tepat setengah dekade yang lalu, aku selalu memiliki banyak padanan kata yang artinya selalu sama. Entah itu akan menjadi jatuh cinta atau rindu. Tokohnya pun hanya kamu. Tidak ada orang lain.

Dulu, hampir tepat setengah dekade yang lalu, aku benar-benar tergila-gila dengan khayal yang ku buat seperti nyata. Kamu datang padaku dengan perlahan tapi tau persis bagaimana perhitungannya. Sampai pada akhirnya kamu dan aku ada hubungan. Semacam cinta yang tak lagi bertepuk sebelah tangan.

Senin, 22 Agustus 2016

Apa? Bagaimana?



Apa yang kamu lihat dari foto ini?
Bagaimana kau ceritakan ya pada yang lain?



----


Pandeglang, 22 Agustus 2016

Selasa, 16 Agustus 2016

Menunggu di Tapal Batas




Biar batas tetap bersama horizon di ujung pandang mata. 
Biar garis tetap bersama asa-asa yang tiada purna.

--


Balaraja, 16 Agustus 2016

Senin, 15 Agustus 2016

Rindu dan Ruang Waktu

Randomly from google

Aku tidak pernah tau kalau waktu menghantarkan kita sampai waktu yang tak pernah kita sangka. Membawa serta dirimu dalam sepersekian waktu hidupku juga satu yang tak pernah aku kira akan sampai pada titik dimana aku kembali diam-diam merindukanmu.

Doa memang hantaran terindah dikala ruang waktu yang tak lagi berdekatan. Tapi sosok hadirmu disampingku, menemaniku makan, menamaniku berjalan, dan semua masa sampai saat kau memeluk dan menyentuhku sembari mengatakan kalau akulah wanita yang kamu harapkan, adalah saat yang ingin selalu ku ulang-ulang sampai bosan merasa kebosanan karena dirinya sendiri.

***

Serang, 15 Agustus 2016

Minggu, 14 Agustus 2016

Satu dan Dua

pic from here

Satu 

Aku hanya tak bisa memahami, bagaimana bisa jalan yang sudah jauh ini harus berhenti karena waktu yang dirasa tak mau bersabar. Bayang-bayang cahaya hanya menyilaukan aku yang kemudian terpojokkan. Ada banyak hal yang ku tahu salah, tapi masih saja kulakukan. Ada banyak keriyaan dan kemunafikan yang ku tampakkan hingga hati tak bisa lagi bersabar kemudian berontak. Menjeritkan aku ingin segalanya tapi aku lupa, kalau aku tak pernah memberikan apa-apa.


***

Selasa, 01 Desember 2015

[cerpen] Autumn

photo from here

***


“Terimakasih.”
Aku tutup kembali daun pintu yang hanya terbuka tiga kali dalam sehari ini setelah selesai bertransaksi dengan pengantar makanan siap saji. Rasanya tidak mudah hidup dalam waktu yang serba dibatasi deadline yang perlahan membuatku muak. Hah! Tapi kalau tak begini, bagaimana aku hidup? Pilihanku sebagai penulis serabutan memang bukan hal yang mudah diterima, sedang ilmu yang bersarang dikepalaku selama empat tahun kuliah adalah polimer, kimia, organik, kalor dan ... aahh kau tak akan mengerti kadang hidup memang harus seperti ini. Tergelitik? Kalau tidak, kembali lagilah pada pertanyaan bagaimana aku akan bertahan hidup.

Sabtu, 21 November 2015

What's Next??

photo from here

Ada banyak kebiasaan yang kemudian hilang perlahan; menulis, menggambar, dan crafting (walau belum sesering gambar dan menulis). Banyak hal juga yang menjadi pembelajaran untuk saya yang Alhamdulillah sudah selesai kuliah dan officially sarjana dua bulan yang lalu.

Menjadi sarjana memang tidak mudah, tetapi lebih sulit lagi ketika saya sudah sarjana. Apa yang akan saya lakukan selanjutnya? Bekal apa yang sudah persiapkan? Sudahkah saya siap menuju dan melangkahkan kaki di universitas yang sesungguhnya; universitas kehidupan? Apakah saya menjadi karyawan dan merintis karir untuk menjadi menejer? Atau apakah saya menjadi pengusaha yang berusaha merintis dari bawah dan menekuninya hingga saya bisa menjadi seseorang yang dapat memberikan lapang pekerjaan bagi orang lain? Ataukah mungkin menjadi seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan diri sepenuhnya untuk keluarga?

Minggu, 27 September 2015

Ketika Hari Itu Datang

kamu - ayahku

Aku menuliskan ini secara sadar. Disaat pertama kalinya lagi aku merasakan langit mendung kemudian turun hujan begitu derasnya. Pandeglang, 27 September 2015.

Tulisan ini masih menyisakan getaran yang datang dari cerita beberapa hari belakangan ini. Siapapun tahu, bahkan semesta laman ini pun mengerti bahwa kamu adalah sebagian besar inti cerita dibalik kisah-kisah roman didalamnya. Kisah yang mulanya tidak bisa kusampirkan dengan jelas, kisah yang mulanya hanya ada aku dan kamu sampai pada akhirnya menjadi kita (meski belum sesempurna itu). Kisah yang mulanya menceritakan bagaimana aku menyimpan kekaguman tiada henti pada sosok yang selisih usianya bahkan jauh dibawahku. Kisah yang menyiratkan bagaimana aku menyimpan semua sisi romansa dalam bentuk yang sengaja ku fiksikan, agar tidak ada satupun tepat sangka atas rasa yang mulanya ku tutupi dengan rapat. Dan beragam kisah emosional yang sulit kuceritakan secara langsung padamu. Sampai hari ini. Kamu. Inti ceritaku.

Saya Sudah Kuliah 4 Tahun, Blog!


Sarah - Futry - Saya di hari kelulusan Futry.
Semarang, 7 September 2015.

Halo blog! Apa kabar? Begitu banyak kisah yang tidak sempat aku ceritakan padamu. Begitu banyak waktu yang ku lewatkan tanpa ku libatkan kamu didalamnya.

Tahun ini bagai tahun yang begitu luar biasa. Satu persatu kemudahanNya terlimpah secara cuma-cuma untukku. Sahabat, guru, dan segala macam hal rasanya Ia berikan untukku dan mengantarkan aku hingga menjadi seorang Sarjana Teknik. Kalau dikatakan apakah aku salah seorang mahasiswa super dengan IPK cumlaude? Tidak. Apakah aku salah satu seorang mahasiswa super rajin hingga bisa lulus tepat waktu? Tidak. Apakah aku seorang mahasiswa dengan kemampuan yang diatas rata-rata sehingga bisa menjadi satu-satunya lulusan yang tidak cumlaude? Tidak. Entah apa yang mengantarkan aku sampai sejauh ini. Aku hanya merasa Allah begitu luar biasanya memberikan langkah yang mudah, urusan yang senantiasa Ia perlancar, dan dorongan yang luar biasa melalui hamba-hambaNya yang memang lebih luar biasa daripada aku.


Sarah - Futry - Saya di hari kelulusan saya dan Sarah.
Semarang, 8 September 2015.

Aku pernah bercerita sebelumnya, ada dua orang terdekat selama masa kuliah. Dan keduanya inilah yang senantiasa mendorongku menjadi salah satu lulusan yang bisa dikatakan tidak ada apa-apanya ini. Mereka yang selalu mengingatkan aku tentang orang tua, masa depan, dan segala kemungkinan terbaik yang sebenarnya sama-sama belum pasti. Mereka hanya mengajarkanku bagaimana caranya tetap berusaha disegala situasi. Mereka yang mengajarkan aku bahwa semua harus dicoba terlebih dulu, hasilnya bagaimana yaa tinggal pasrah.  Segala bentuk kekuatan optimisme sebagian besar, bahkan hampir semuanya berasal dari dua anak ini.


Sarah Bonita dan Futry Tria Christy.


Aku dan kedua manusia yang kadang menyebalkan ini, seolah tersesat di satu universitas pilihan kedua, fakultas dan jurusan yang sama. Teknik Lingkungan – UNDIP. Hidup selama empat tahun di satu atap yang sama, setiap tahap yang kita lalui hampir selalu sama. Kuliah – kosan – kelas – kerja praktek – topik TA – laboratorium penelitian – lulus – (Insya Allah) wisuda, BERTIGA!
Yang kemudian sadar, kalau kami sama sekali tidak tesesat. Tapi ibi takdir. Semacam garis yang sudah Ia tentukan untuk kami, tentunya.

Ah! Kalau nanti sudah tidak dengan mereka ............ bagaimana ya?



“Semoga Allah senantiasa jadiin kalian orang yang tetep rendah hati dan menggantikan segala kekuatan yang kalian kasih buat gw dengan sesuatu yang jauh lebih besar. Semoga semakin didekatkan dengan segala hajatnya. Semoga JODOH semakin dekkaaaaaatttt. Aamiin.”

Selasa, 28 Juli 2015

Seperti Rindu, Mungkin

Sayang, maaf. Ada yang harus aku perbaiki sepertinya dari bagaimana caraku menunjukan apa yang aku rasa. Aku sudah sangat terbiasa melakukan apa yang aku mau dan mengharapkan reaksi dan respon yang sesuai dengan harapanku. Sepertinya aku akan mulai berhenti melakukan itu. Aku belum terbiasa mendapatkan reaksi yang berbeda dari apa yang aku mau, tapi aku pikir akan lebih baik jika aku berhenti melakukan semau-mauku dalam menunjukan perasaanku, reaksiku, dan sebagainya. Aku akan coba memendam rasa, reaksi atau apapun yang biasa aku tunjukan meski selewat kata. Walau raut dan air mata masih bagian tersulit untuk aku sembunyikan. Aku akan mencoba melakukan yang seharusnya aku lakukan saja. Seperti memendam rasa rindu, mungkin.