Senin, 25 November 2013

Diatas Kaleng Besi Tua Menuju Bakahuni

photo from here

Aku duduk manis menahan ngilu di sendi tulang
Di sepanjang jalan menuju Bakahuni
Masih diatas kaleng besi tua,
Beradu gaduh, terhempas gelombang

Kemudian,
Aku menerawang jauh entah kemana
Membuang pandang yang mungkin sampai ujung lengkung langit yang tak terlihat,
di sela kotak kaca buram,
(masih diatas kaleng besi tua menuju Bakahuni)

Buah pikir dalam memori ku berhamburan
Rasanya, seperti buih ombak yang mencium ujung kaleng besi tua ini


Aku teringat setengah windu lalu
Bocah ingusan berlari menangis menyusul asa
Di ranah rantau, negeri orang
Sendiri membawa badan, sedikit koin ayah dan doa bunda
Menahan erangan sakit, entah di hatinya atau dipikirnya

Hebatnya selalu ada pekikan tawa,
Selalu ada gurauan penghibur,
Selalu ada celaan tak bermuara,
Membaur dari ratusan kata yang kemudian menjadi satu rasa,
Dan aku menyebutnya jatuh cinta pada pandangan pertama


Ah! Aku hampir saja lupa, ini sendi masih ngilu
Senandung rindu tak bertepi ini seperti berhasil mengusapnya luput

Seolah hari menjadi usang untuk kembali membungkus harapan baru
Setelah hari itu,
Di malam awal tahun yang tak terlalu pekat,
Kamu lupa kalau aku menunggu ucapan cintamu

Kembang api pilu seolah mewarnai malam perpisahan
Aku tak bisa tenang,
Langkah kita, apa akan kembali kesana?
Di Ranah rantau sejuta rasa.
Dimana cinta jadi buah termanis di bibir kamu dan aku

Bahagialah dengan hidupmu yang baru,
Aku membayangi terus sendu dan harumu
Karena kita mungkin akan satu,
Entah kapan dan dimana.
Atau mungkin saja tidak bertemu lagi


Diatas kaleng besi tua menuju Bakahuni ini
Mungkin akan menjadi salah satu saksi
Kalau rindu itu masih ku simpan dalam angan tanpa tepi

Diatas kaleng besi tua menuju Bakahuni ini
Ah, sudahlah.
Kau sudah menjadi milik orang lain.

2 komentar:

Annesya mengatakan...

yah... ila... yah... udah jadi milik orang lain yah :'(

Hisyam Icham mengatakan...

Bagus ila, ada beberapa part yang ngena juga hehe..