Jumat, 06 Januari 2012

Short Story About You

photo from here

“Rinai di senja menjingga menggoda kering mengharumkan bebau tanah di siang terik sebelum saat ini. Tapi saya suka. Suka sekali. Bebau tanah itu, seperti membangunkan petang untuk segera menggoda wulan menggandeng gemintang genit di ujung sabitnya, seperti biasa. Seperti malam sebelumnya. Meski nyata tidak nyata, tapi kamu begitu hidup seperti malam siang yang belum enggan Tuhan hentikan.”

Hhhmmm…
Biar saya tebak inti cerita ini pasti tentang kamu. Ya, kamu! Kamu yang entah sejak kapan mulai bersarang di mimpi saya, mulai menggandeng benak saya dengan kesanmu yang begitu mengagumkan, dan diam sangat lama sampai saya sadar sedari tadi saya masih tersenyum oleh mimpi tadi malam, mimpi tentang kamu. Sebenarnya kamu hanya menebar tersenyum di mimpi saya, kemudian tidak sengaja menggandeng tangan saya saat keadaan aneh yang tiba-tiba mengganggu. saya tidak menyayangkan kalau itu hanya mimpi, karena begitu nyata dan sangat membekas. Kamu tersenyum hebat dan mempesona, menggenggam lengan saya kuat dengan senyum yang terus sengaja kamu tebar. Oh Tuhan, bahkan saat ini, saat saya bercerita padaMu, ada buncahan hebat dalam sini, hati. Dan memang selalu begitu.

“Masih biarlah ketika rinai tak lagi membaui saya dengan bau tanah. Tapi saya tahu dengan jelas, saya menahan diam di belakang kamu, meski tanpa memandang.”

Saya yakin, sangat yakin, ini hanya halusinasi seseorang yang tidak ada habisnya memikirkan kamu. Kamu dengan halus menahan saya yang akan memilih melaju dengan orang lain diatas mesin beroda dua. Saya melayang terlalu jauh dan kembali mengusap dada dengan halus, menarik nafas dalam-dalam dan …
“Oke. Dengan siapapun saya, itu baik untuk kalian.”
Entahlah, apapun yang terlontar dari mulut saya setelah itu, saya tidak peduli. Ini mungkin hanya perasaan saya yang merupakan seseorang yang tidak ada habisnya memenuhi pikiran dengan bayang kagum padamu.

Kamu duduk di depan saya, dan saya menahan diri sembari terus berulang-ulang mengelus dada di belakangmu. Mesin beroda dua ini mungkin menjadi saksi dan akan terus diam beribu kata saat kamu dan saya melaju kuat mengejar waktu di pergantian tahun.
Tanpa kata, tanpa canda. Tapi hangat. Kamu diam, saya jauh lebih diam. Itu yang pasti saya rasa.

Kamu, diatas mesin beroda dua yang terus melaju ini, dengan sesekali helmet yang saya pakai terbentur pada helmetmu, apa yang kamu pikirkan? Adakah saya terselip sedikit disana? Dipikirmu.
Saya bahkan sebenarnya tidak bisa melengkapi pikiran saya tentangmu meski hanya tiga detik. Buncahan aneh selalu menyerang dengan tiba-tiba, mendebarkan keras hentakan nadi. Padahal jelas kamu jauh disana dan saya menabung bayangmu dalam benak disela tawa riang dengan sahabat, bahkan tidak juga kamu akan sadar saya adalah seseorang yang sedang memenuhi benak dengan polah dan diammu. Saya hanya takut, kamu akan hilang tiba-tiba dan saya lupa kalau kamu adalah seseorang yang tiada habisnya saya sisipkan dalam benak ketika saya diam.

Tetapi malam ini, di pergantian tahun ke dua belas ini, kamu dan saya duduk bahkan tidak lebih dari tiga puluh sentimeter diatas mesin beroda dua yang melaju tanpa berontak. Tidak peduli kamu diam atau saya bahkan jauh lebih diam, yang saya tahu dengan jelas, saya mengagumi kamu dalam lidah yang kelu dan hentakan keras dalam dada yang selalu menyesakkan saya dalam waktu yang tidak sebentar. Saya mengagumi kamu dengan apapun yang kamu lakukan, tidak peduli apapun itu. saya kagum.
kamu yang satu-satunya menjadi bagian paling menghidupkan warna beragam saat abu-abu saya tutupi dengan kuat.

Sayangnya, kamu masih terlalu jauh hati saat semua ini bahkan membeku dibelakangmu dalam waktu sembilan jam yang kemudian selesai.

"Saya akan diam dulu sampai pagi lagi dijemput menyapa mentari. Bertukar posisi wulan gemintang dengan surya dan embun yang masih akan sejuk saat pagi terus diam hingga pagi lagi. Lain saya, akan terus membuyar rasa dalam satu kata, diam."

2 komentar:

Senja mengatakan...

dear ila, kadang bertanya apakah semua tulisan manis mu ini kisah nyata hatimu atau kah fiksi atau sepenggal ide yg mampir dipikiranmu ?

happy weekend dik :)

ila mengatakan...

hai mba iir :)
ide yang mampir, mba kalo yang ini hehehe
Yang lain'a banyak yg basis'a kenyataan :D