Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2015

[cerpen] Autumn

photo from here

***


“Terimakasih.”
Aku tutup kembali daun pintu yang hanya terbuka tiga kali dalam sehari ini setelah selesai bertransaksi dengan pengantar makanan siap saji. Rasanya tidak mudah hidup dalam waktu yang serba dibatasi deadline yang perlahan membuatku muak. Hah! Tapi kalau tak begini, bagaimana aku hidup? Pilihanku sebagai penulis serabutan memang bukan hal yang mudah diterima, sedang ilmu yang bersarang dikepalaku selama empat tahun kuliah adalah polimer, kimia, organik, kalor dan ... aahh kau tak akan mengerti kadang hidup memang harus seperti ini. Tergelitik? Kalau tidak, kembali lagilah pada pertanyaan bagaimana aku akan bertahan hidup.

Sabtu, 14 Juni 2014

Tiga Masa Satu Waktu

photo from here
Pagi memang masih terlalu dini, empat titik dua puluh lima.
Tidak apa, aku hanya ingin mencoba beranikan diri menyisir pantai yang masih gelap dan sepi. Berteman aroma sisa angin malam dan pemandangan para nelayan yang baru saja pulang melaut. Terlihat ada banyak sisa asa yang masih bergantungan diujung rasa kantuk mereka dan pertaruhan untuk hidup anak, istri, dan sanak saudara. Indah. aku seperti sudah lama sekali tidak melihat pemandangan seperti ini. Bukan pantainya, melainkan mereka, para nelayan yang diekori oleh bayang-bayang pengharapan, seperti banyak kalimat; “Kamu tunggu dirumah ya, nak. Ayah akan kembali membawa ikan yang banyak, kita akan makan besar”. Aku tersenyum dibuatnya. Begini, layaknya Tuhan mengajarkanku tentang asa, pengharapan, dan hidup.

Masih tak jauh dari awang-awang tentang potret kehidupan yang baru saja ku lihat. Meniti langkah, perlahan, mencoba menikmati sapuan ombak yang kian menjauh. Aku membiarkan pikiran ini memboyong kaki yang terus saja menagih akan langkah yang tak pasti arahnya. Terlebih, aku memang suka begini. Tuhan seperti memberikanku waktu yang banyak untuk kemudian berjalan dengan jutaan rayuan masa, melayang. Terbang hilir mudik bersama benak yang tak kunjung tenang dalam satu, dua, tiga masa yang berbeda.

***


Entah mengapa, seperti begitu banyak sayup-sayup rindu dari masa lalu yang angin bisikan di balik riuhnya ombak yang meronta menggoda kakiku, dingin. Mengajakku untuk menyapa indahnya bayangan masa depan dengan rayuan rindu lalu-lalu yang bahkan ku lupa rasanya seperti apa. Aku sama sekali tidak suka begini, seperti berhenti langkah di masa lalu dan lupa kalau waktu masih terus gerogoti masa. Tapi Tuhan layaknya mengajarkan satu hal lagi dengan memberikan waktu yang banyak untuk kemudian ku mengerti, ada masa yang berlalu – ada masa yang akan segera berlalu.

Rabu, 16 November 2011

Tuhan Maha Membalas, mbak..

photo from here





“ Assalamualaikum, mbak Raya, Rani datang nih, bukain pintu dong.”

Rani untuk Fatimah Maharani Azzahra. Gadis sembilan belas tahun yang periang, bersuara cempreng, dan entah bagaimana anak ini begitu bersahaja. Apapun yang Ia alami selalu tersimpan dibenaknya kemudian senantiasa ia dijadikan hikmah untuk terus menjadi gadis periang dan membahagiakan orang yang tentu saja ada di dekatnya. Seolah sama sekali tak pernah ada kesedihan melandanya. Baiklah, ini sosok gadis remaja yang selalu aku syukuri karena Allah telah datangkan padaku, mengisi hidupku di ranah rantau ini.

“ Waalaikumsalam Rani, sabar. Kebiasaan ya kamu. Ini mbak lagi nyuci baju.” Dengan sedikit tergesa aku membuka pintu, kalau sampai telat sedikit lagi, bias-bisa rani tambah cerewet, tidak sabaran.

“ Hehehe … Allhamdulillah, makasih ya mba-ku sayang.”