Pagi memang masih terlalu dini, empat titik dua puluh lima.
Tidak apa, aku hanya ingin
mencoba beranikan diri menyisir pantai yang masih gelap dan sepi. Berteman
aroma sisa angin malam dan pemandangan para nelayan yang baru saja pulang
melaut. Terlihat ada banyak sisa asa yang masih bergantungan diujung rasa
kantuk mereka dan pertaruhan untuk hidup anak, istri, dan sanak saudara. Indah.
aku seperti sudah lama sekali tidak melihat pemandangan seperti ini. Bukan
pantainya, melainkan mereka, para nelayan yang diekori oleh bayang-bayang
pengharapan, seperti banyak kalimat; “Kamu tunggu dirumah ya, nak. Ayah akan
kembali membawa ikan yang banyak, kita akan makan besar”. Aku tersenyum
dibuatnya. Begini, layaknya Tuhan mengajarkanku tentang asa, pengharapan, dan
hidup.
Masih tak jauh dari awang-awang
tentang potret kehidupan yang baru saja ku lihat. Meniti langkah, perlahan,
mencoba menikmati sapuan ombak yang kian menjauh. Aku membiarkan pikiran ini
memboyong kaki yang terus saja menagih akan langkah yang tak pasti arahnya.
Terlebih, aku memang suka begini. Tuhan seperti memberikanku waktu yang banyak
untuk kemudian berjalan dengan jutaan rayuan masa, melayang. Terbang hilir
mudik bersama benak yang tak kunjung tenang dalam satu, dua, tiga masa yang
berbeda.
Entah mengapa, seperti begitu
banyak sayup-sayup rindu dari masa lalu yang angin bisikan di balik riuhnya ombak
yang meronta menggoda kakiku, dingin. Mengajakku untuk menyapa indahnya
bayangan masa depan dengan rayuan rindu lalu-lalu yang bahkan ku lupa rasanya
seperti apa. Aku sama sekali tidak suka begini, seperti berhenti langkah di
masa lalu dan lupa kalau waktu masih terus gerogoti masa. Tapi Tuhan layaknya
mengajarkan satu hal lagi dengan memberikan waktu yang banyak untuk kemudian ku
mengerti, ada masa yang berlalu – ada masa yang akan segera berlalu.