Rabu, 16 November 2011

Tuhan Maha Membalas, mbak..

photo from here





“ Assalamualaikum, mbak Raya, Rani datang nih, bukain pintu dong.”

Rani untuk Fatimah Maharani Azzahra. Gadis sembilan belas tahun yang periang, bersuara cempreng, dan entah bagaimana anak ini begitu bersahaja. Apapun yang Ia alami selalu tersimpan dibenaknya kemudian senantiasa ia dijadikan hikmah untuk terus menjadi gadis periang dan membahagiakan orang yang tentu saja ada di dekatnya. Seolah sama sekali tak pernah ada kesedihan melandanya. Baiklah, ini sosok gadis remaja yang selalu aku syukuri karena Allah telah datangkan padaku, mengisi hidupku di ranah rantau ini.

“ Waalaikumsalam Rani, sabar. Kebiasaan ya kamu. Ini mbak lagi nyuci baju.” Dengan sedikit tergesa aku membuka pintu, kalau sampai telat sedikit lagi, bias-bisa rani tambah cerewet, tidak sabaran.

“ Hehehe … Allhamdulillah, makasih ya mba-ku sayang.”


“ Yaudah, cuci kaki sama tanganmu dulu tuh. Mbak udah masak martabak mie buat kamu. Entah kenapa juga mbak ada feeling kamu akan datang. Hehehe”

“ Aaaaaahh iya aku lupa sms, untung mbak ada hehehe.. Martabak mie? asik asik.. aku solat dulu deh tapi.” Sedikit berlari Rani menuju kamar mandi, sampai-sampai Ia lupa melepas kaos kakinya.

“ Yaudah, solat duluu gih sana. Tapi kaos kaki tuh lepas dulu, nanti basah lagi.”

“ Hehehe..” Rani Cuma cengengesan sambil ngeloyor masuk kamar mandi. Aku selalu tersenyum melihat tingkahnya. Ada saja yang ia lakukan dan membuat aku makin bahagia mengenalnya. Serasa hidupku jadi berwarna karena keberadaannya.

Begini, jadi Rani itu bukan adik kandungku. Hanya kebetulan Allah jodohkan melalui jejaring sosial. Kami berkenalan, bertukar informasi di telepon atau sms atau juga chatting, dan sering kali bertemu untuk sekedar buka puasa bersama atau mengobrol melepas lelah. Usia kami terpaut 4 tahun, tapi Rani ini fleksibel, ia selalu bias menempatkan diri kadang manja padaku atau juga terkesan dewasa dariku. Lontarannya yang cerdas selalu tak terduga. Selalu membuatku berfikir, Mahasuci Allah telah menciptakannya.

“ Mbaaaaakkkk,, ayo berjamaah.” Tiba-tiba Rani sedikit berteriak mengajakku untuk berjamaah. Mungkin karena ia tahu aku sedang menjemur di luar, oleh karenanya ia sedikit berteriak.

“ Mbak lagi libur, Rani.”

“ Oh, oke deh mbak.”


* * *

Akhirnya semua pakaian dan jilbabku selesai tersampir di jemuran. Aku menengadah, menengok langit, biru keabuan. Ya Allah, bukan aku kufuri nikmat hujanMu, tapi bagaimana bisa aku terus memakai baju yang sama dan hampir kotor. Sedangkan Engkau menyukai kebersihan. Untuk kali ini, boleh kan aku meminta untuk tidak hujan dulu? Aku malah tersenyum malu pada diriku sendiri, aku sedang melakukan penawaran sepertinya.
Tapi belum juga ku melihat Rani keluar dari kamarku. Belum selesai, kah, ia solat? Akhirnya menengok ke kamar.

“ Rani.” Kataku pelan sambil membuka pintu kamar.

“ Ah iya, mbak. Nungguin aku ya? Hehehe pasti udah laper?”

“ Oh, lagi apa kamu?”

“ Gak ngapapain, mbak. Baru beres solat aja.”

“ Yaudah makan, yuk.”

Dan Rani mellipat rapi mukena dan ia sampirkan di tempat semula.


 * * *


Hari ini, ku dapati hal lain yang terpancar dari wajahnya yang seolah bersinar ketenangan dan pancaran kebahagiaan. Aku tahu pasti, keadaannya di rumah seperti apa. Bukan anak yang selalu dimanja diperhatikan oleh kedua orang tuanya, bukan sosok yang tinggal di lingkungan keluarga harmonis. Begitulah kira-kira. Aku masih tak paham juga, bagaimana ia menyikapi semua ini selalu dengan keceriaan dan penebaran kebahagiaan pada orang lain.

Aku sempat Tanya saat ia menceritakan kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, “ De, apa yang kamu rasain sekarang? Semalam sebelum kamu cerita padaku, apa kamu menangis?”
Aku tertegun dengan jawabannya, “ Mbak, bukankah Allah menciptakan tetes air mata untuk setiap kali apa yang kita rasakan? Ia tidak menyalahi semua makhluknya untuk menangis, asal jangan berlebihan. Aku hanya takut aku akan larut dalam kesedihan yang dalam dan aku lupa sama Allah. Kalau keputusan ibu dan ayah begitu, aku juga malu sebenarnya ka, kami ini beragama, tapi begini. Yaaaa,, sekarang, siapa lagi yang bisa nolong mereka selain aku? Begitu kan ka, fungsinya anak sholeh?” subhanallah, malah aku yang menangis. Benar-benar Mahasuci Allah telah menciptakannya.

Ah, aku tak akan ada habisnya bercerita tentang gadis penyuka warna kuning ini. Terlalu menarik dan membuat aku, kamu atau kalian semua mempelajari bagaimana caranya mensyukuri semua yang Allah berikan. Aku kadang selalu berfikir, bagaimana bisa seorang gadis berusia labil, memiliki sifat dan sikap seperti ini? Sebelumnya aku sangsi. Karena aku bercermin pada diriku sendiri, aku tak pernah seperti ia, seperti malaikat ini, Fatimah Maharani Azzahra.

* * *

Ada yang lain kudapati dari raut wajah dan gurat senyum manis Rani, seperti orang yang sedang kasmaran. Ya! Pancarannya bunga-bunga dan semburat merah muda di pipinya. Agak berlebihan memang, tapi yaaa memang sepetti itu yang ku lihat. Kalau saja kamu atau kalian tahu dan melihat sinar wajahnya di siang bolong terik ini
Lalu tiba-tiba ia bertanya, saat menyendok nasi, agaknya mengejutkan memang.

“ Mbak, apa mbak pernah jatuh cinta?” tipis sekali ku dengar dari mulutnya. Sepertinya ia tidak mau sampai aku mendengarnya.

“ Ah, bener aja yang mbak pikirin. Kamu pasti sedang jatuh cinta?” Kataku menggoda, mencolek pinggangnya.

“ Hehehehe mbak ini denger aja.” Malu-malu sekali gadis ini wajahnya. Sambil duduk di depan TV, memindahkan-mindahkan channel, entah apa yang ingin ia tonton.

“ Kamu lagi diet ya? Kok makannya sedikit? Apa efek jatuh cinta, yaaaa??” kataku makin menggodanya. Dan ia hanya tersenyum malu-malu. Ah dasar ABG, kataku dalam hati.

“ Pertanyaanku belum mbak jawab lhoo..”

“ Tentu saja sayang, aku jatuh cinta sama calon suamiku. Kamu tau sendiri, selesai Mas Yunus pulang dari Belanda, selesai S2, aku mau nikah, kan? Nah, masa aku gak jatuh cinta sama dia?” aku tersenyum mengingat reaksinya yang sedikit terkejut ketika ternyata lagi-lagi aku mendengar ucapannya, meski sedikit sedang mengunyah.

“ Mba, aku juga jatuh cinta sama calon suamiku. Aku selalu bahagia walau aku gak tau dia ada dimana. Aku selalu bahagia dan senyum-senyum sendiri ngebayangin siapa calon suami aku. 5-6 tahun lagi aku akan ketemu dia, mbak, insya Allah.” Aku melihat bahagia kini benar-benar terpancarr jelas di wajahnya. Aku tersenyum bahagia menski sedikit tak mengerti.

“ Calon suami? Kok kamu gak cerita sama mba?” tanyaku heran.

“ Mbaaaaakkk, perhatian lho, aku bukan dijodohin sama ibu atau ayah. Jangankan dijodohkan, di perhatiin aja kayaknya engga. Hehehe”

“ Lalu?” aku semakin heran, aku pikir ia dijodohkan.

“ Aku selalu percaya apa yang aku tanam adalah yang aku tuai, mbak. Aku selalu percaya janji Allah akan selalu ditepati pada seseorang yang senantiasa bersabar dengan terus berusaha dan berserah. Aku sama sekali belum ketemu siapa calon suamiku, bagaimana ia, tinggal dimana ia. Aku sama sekali gak tau, mbak.

Tapi aku tau, dan aku udah jatuh cinta dari sekarang. Aku harus menabung kebaikan, mbak, kalau mau dapat yang serupa. Aku mau calon suami yang sholeh dan anak-anak yang berbakti pada agamanya, pada orang tuanya. Aku benar benar jatuh cinta pada rahasia Allah yang satu itu, mbak. Hehehehe berlebihan ya??”

Kamu tahu apa yang aku lihat? Kamu tahu apa yang aku rasakan?

Subhanallah, Mahasuci Allah menciptakan anak solehah seperti ini. Bagaimana bisa ia mencintai sesuatu yang tak terlihat olehnya? Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada sesuatu yang sama sekali ia tak tau, yang hanya Allah saja yang tahu.

“ Tapi aku bingung mbak, ini halal apa engga. Hehehe yang aku tau, aku mencintai harapan yang pasti kan mbak? Berharap penuh pada Allah? Kalau aku berharap pada manusia, malu lah aku mbak, gak ngasih apa-apa kan kalau mereka??”

Aku hanya tersenyum melihatnya. Hatiku penuh syukur. Hatiku penuh bahagia. Allah benar-benar Maha Segalanya. Rani sudah diteguhkan oleh keyakinannya pada rahasia Allah.

“ Aku selalu yakin Allah Maha Membalas, mba.” Katanya sambil menyuap suapan terakhir.

“ Enak mbak. Enak banget. Kok gak kayak biasanya, ya?” sambil berjalan ke dapur, ia membawa piring kotorku juga, dan langsung mencucinya.

“ Nginep ya, de,malam ini? Habis asar anter mbak ke pengajian?”

“ Waaaahhh asik tuh mbak, pasti ketemu temen-temen mbak juga ka? Asiiikk jadi banyak kenalan dong? Hehehe”

Aku, lagi-lagi hanya tersenyum, melihat tingkah juga segala macam yang ia lakukan dan menjadi pelajaran yang paling berharga untukku, di siang terik ini. Ketulusannya tentang kasih sayang dan kesabarannya tentang harapan. Allah langsung yang mengajarinya sampai begini.


Subhanallah..



Rani Untuk Fatimah Maharani Azzahra..






The End



* * *

3 komentar:

Smara mengatakan...

bagus, tapi coba di perjelas lagi kalo di dialog ya. agak sedikit membingungkan. hehehe. :p

ila mengatakan...

hehehe iyaa..
tapi bingungnya gmna toh?

Smara mengatakan...

karakternya kurang di perjelas aja sih