Minggu, 18 Mei 2014

Guru Kecil Saya



Assalamualaikum. 
Sudah lama sekali rasanya tidak mampir disini. Belakangan saya sedang senang sekali menggambar dan lebih sering mampir di Tumblr. Dan niat untuk menulispun timbul tenggelam.

Hhmm begini sebenarnya ada empat hal yang belakangan menjadi beban dipikiran saya. Untuk tiga hal pertama tidak bisa saya ceritakan disini, dan untuk hal yang terakhir ini entah mengapa benar-benar terpatri di benak saya dan harus segera ambil langkah sebagai permulaan.


Begini, sudah dua setengah bulan ini saya aktif membantu adik-adik belajar di Kelurahan Jabungan, Kramas, Semarang. Lokasinya tidak jauh memang, kurang lebih sepuluh menit dengan menggunakan motor saja sudah sampai. Ada sekitar 10-15an anak dengan latar belakang dan peminatan yang beragam, konsisten hadir di kegiatan kami setiap hari Jumat sore di gedung bekas balai desa. Rata-rata anak-anak berasal dari keluarga yang miskin perhatian terhadap pendidikan dan tumbuh kembang anak. Sebatas menyekolahkan kemudian selesai. Saya yang walaupun sangat menyukai anak-anak, untuk kali ini hampir saja menyerah dan kelepasan tidak sabaran pada anak-anak yang sebenarnya bukan nakal melainkan mencari perhatian.


Baiklah, saya akan ceritakan beberapa anak dari sekian banyaknya anak yaa.

Nanang atau Moyo
Pertama, Nanang atau biasa dipanggil Moyo oleh teman-temannya adalah anak yang sangaaaaatttt luar biasa haus perhatian dari kami para kakak-kakak yang datang mengajar. Cara bicaranya bossy, gayanya bahkan sudah bukan seperti anak SD, sudah merokok dan kenal dengan istilah (maaf) cabul. Seringnya saya dan teman pengajar yang lain, kesal dan tidak mau banyak memperdulikan dia. Namun sayang, kami tidak boleh begitu. Harus dengan perlahan. Harus benar-benar perlahan kami pahami maunya seperti apa dengan itu pun kami bisa pelajari bagian maunya yang seperti apa yang tidak boleh kami ikuti agar bisa hormat dan menghargai kami juga teman-temannya. Sepetinya sikap dia yang sangaaaaattt sulit diatur dan dikontrol karena latar belakang keluarganya yang memangsangat kurang sekali memperhatikan baik di agama dan tumbuh kembangnya secara akademik atau sosial.

Bowo (Yang paling depan)
Bowo. Anak ini duduk di kelas 2. Sebenarnya anak yang senang sekali berhitung. Awalnya dia sering sekali terpengaruhi nanang untuk tidak belajar, tetapi makin kesini bowo adalah anak yang menurut saya paling rajin. Setiap kali kami datang ia selalu sudah membawa buku dan pensil yang ia sisipkan dibalik celananya. Setelah selesai mengerjakan beberapa soal hitungan ataupun hafalan barulah ia akan sangat mudah terpengaruhi untuk ikut mengganggu teman yang lainnya bersama Nanang. Sedihnya, bowo juga sudah sangat mahir merokok.


Teguh
Teguh. Salah satu anak yang menurut saya sebenarnya memiliki potensi sebagai pemimpin. Pandai membuat kaligrafi. Dan bisa diajak komunikasi dengan baik. Dan belakangan ketika kami membuat kontes final untuk lomba menggambar, Teguh lah yang menjadi MC nya. Dan ternyata cukup hebat. Ia tahu apa yang harus ia katakan tanpa terbata-bata.

Evin
Evin. Gadis tembem kelas empat SD ini yang paling dekat dengan saya. Anaknya memang kadang mudah menangis tapi emosinya mudah stabil kembali. Evin juga salah satu anak yang paling semangat dan giat untuk mengerjakan soal yang kami berikan. Yaaa walaupun kadang masih suka moody.

Masih banyak anak yang sebenarnya ingin saya ceritakan dengan segala keunikannya dan keistimewaannya masing-masing. Beberapa bahkan hampir semua dari anak-anak ini masih sering mengatakan kata-kata kotor yang tidak pantas mereka ucapkan, berteriak-teriak, tidak sopan pada teman atau kami, masih suka melempar ketika memberi, masih sering merebut ketika meminjam, berkelahi, mengganggu dan sebagainya. Pernah juga beberapa kali saya melihat mereka memperagakan gerakan (maaf) cabul pada temannya. Sehingga membuat saya dan teman-teman untuk terus bersabar dan memahami serta mempelajari bagaimana mendidik mereka dengan kasih sayang, kelembutan, dan ketegasan agar tidak lagi seperti sekarang. Walau saya yakin, mereka inilah mutiara-mutiara tersembunyi. Hanya tinggal ditemukan kemudian diolah dengan benar makan akan menjadi harta benda yang luar biasa. Suatu saat nanti, semoga Tuhan memberikan kemudahan untuk menjadikan mereka lebih dari sebatas mutiara. Namun menjadikannya berlian. Suatu ketika merekalah berlian yang menjadi harta paling berharga untuk agama, bangsa, dan keluarganya.


Dari sekian anak, Ada satu yang paling istimewa menurut saya dan inilah yang paling mengganggu pikiran saya belakangan ini. Ia berusia 11 tahun dengan mental yang sedikit terbelakang namun sebenarnya memiliki semangat yang gigih untuk belajar. Setiap kali datang selalu membawa kantong plastik hitam berisi buku tulis dan pensil atau pulpen. Satu-satunya anak yang memanggil kami dengan sebutan “IBU” juga “BAPAK”, meski ketika ia berbicara atau bercerita saya atau teman-teman sedikit kesulitan memahami apa yang ia katakan. Tak perlu saya katakan secara rinci, sudah saya bilang ia BERBEDA dan ISTIMEWA. Satu-satunya anak yang belum pernah saya lihat marah pada teman sebayanya. Dia sering memeluk saya dan mengucapkan, “Sayangku”. Agak canggung memang, tapi kami mulai terbiasa karena ia tidak sama dengan yang lainnya. Ia berbeda. Ia istimewa. Fais namanya. 

Fais dengan gambar yang ia namakan rumah

Pernah suatu ketika saya pulang dari Jogja, diperjalanan ketika tertidur saya bermimpi, seorang diri sedang mengajarinya menulis dan menghafal, kemudian tiba-tiba dimimpi saya mengajarinya Al-Fatihah. Dalam mimpi, saya mendengar ia melafalkan setiap ayat dengan jelas, dan setiap jeda juga qolqolah yang saya lakukan ia tiru dengan sama persis. Kemudian dalam mimpi saya pun, saya menyimpulkan bahwa ia dengan segala keterbatasnyannya memiliki ingatan dan daya tangkap yang baik, bahkan sangat baik.

Baru kemarin lagi, Jumat-16 Mei 2014 Fais datang lagi ke Balai Desa, setelah dua minggu tidak tidak ada kabar. Seperti biasa, ketika kami datang ia langsung menghampiri untuk menyalami kami satu-satu. Dengan sigap ia langsung mengambil tikar yang biasa kami gunakan sebagai alas belajar. Ada rasa rindu yang besar pada anak ini. Setelah kami duduk rapi, dan mulai mengerjakan soal-soal. Fais belajar menulis dengan Iput, teman saya. Kemudian setelah selesai menunjukkannya pada saya bahwa ia sudah menulis huruf A-B-C-D-E dan mendapatkan nilai seratus. 

Fais sedang manggambar rumah

 Setelah selesai mengajar, kebetulan Fais pulang sedikit lebih lama dari yang lain.
“Fais sini, sini, ibu mau tanya. Kemaren fais kemana? Kok gak datang?”
“Ikut bapak kerja.” Jawabnya dengan tatapan dan gerak-geriknya yang tidak fokus.
Kemudian saya tanya lagi dan pembicaraan mengalir begitu saja.
“Lho, kok ikut bapak? Emang bapak kemana? Kerja apa?”
“Supir truk, bu.”
“Fais ikut bapak nyupir?”
“Iya, bu.”
“Buat apa emang?”
“Buat nyari uang.”
“Nyari uang? Buat siapa?”
“Buat ibu dirumah.”
“Ibu kerja apa emang?”
“Dagang.”
“Fais punya ade?”
“Punya satu.”
“Fais mau sekolah engga?”
 “Mau, bu.”
“Dimana? Disini.”
“Disini?”
“Iya disini. Ini sekolah.”

Mengenai ia yang mengikuti bapaknya bekerja memang sempat saya dengar sebelumnya dari penggiat pendidikan di Jabugan, Bu Mono. Katanya, Fais walaupun keadaannya seperti itu, ia adalah anak yang kuat dan tangguh makanya suka ikut dan diperbolehkan ayahnya bekerja. Ia ikut membantu bapaknya yang supir truk dan terkadang juga suka membantu mengangkat-angkat kayu dengan bapaknya.

Dan hati saya langsung terenyuh mendengar apa yang ia katakan. Balai desa, dengan tidak ada buku pelajaran, dengan tidak ada papan tulis dan seragam yang mengindentikkan sekolah, dengan tidak adanya kursi dan meja belajar, dengan segala keterbatasan fasilitas yang kami sediakan, sedang Fais menyebut ini dengan sekolah. Astagfirullah, Subhanallah, Walhamdulillah, AllahuAkbar. Saya tidak memandang bahwa ia miliki suatu kelebihan dibanding kita yang biasa saja, tapi paling tidak ia mengajarkan saya bahwa segala sesuatu harus bisa diterima dengan lapang apapun keadannya. Saya kemudian banyak istigfar. Alhamdulillah Allah berikan nikmat yang luar biasa kepada saya, baik secara lahiriah maupun batiniah.
Memang pelajaran hidup itu bukan kita peroleh dari sebatas bangku sekolah yang bisa dalam belasan tahun. Tapi ini dari seorang anak yang berbeda dan sangat istimewa.
Semoga Allah memudahkan saya dan teman-teman yang lain memberikan Fais segala sesuatu yang seharusnya ia dapatkan karena ia sangat membutuhkannya. aamiin.  (Bantu kami ya Allah..)


Sepertinya sudah terlalu panjang. Mungkin cukup dulu. Teman-teman bisa mampir kesini untuk cerita lebih lengkapnya. Walau masih seadanya :p



Wassalamualaikum.

1 komentar:

Rio Adi Setiawan mengatakan...

Assalamualaikum wr wb saya anggota karang taruna di jabungan bu yang udah lama vakum dan kemarin udah mulai di rilis lagi
Saya dan teman teman sebenernya juga prihatin melihat keadaan generasi penerus kita, generasi tunas bangsa yang sebentar lagi melanjutkan perjuangan kita , baik untuk jabungan khususnya dan indonesia pada umumnya
Mungkin saya belum bertemu dengan anda mbak tapi setelah saya membaca tulisan ibu tentang FAIS say terharu
Karena fais memang anak yang cepat tanggap dan mudah untuk menerima hal baru tapi memang maaf agak kurang genep bahasa jawanya
Langsung aja mbak gimana kalo kita bekerja sama emm seminggu atau sebulan sekali kita lakukan les atau belajar bersama seperti tulisan mbak diatas, kalau ibu berminat ini kontak saya 085799798946 Rio Adi Setiawan