Minggu, 24 Juni 2012

Saya, Bersembunyi


Entah seberapa banyak gemintang yang kemudian aku sembunyikan dibalik purnama paling benderang yang pernah aku berikan. Bahkan disaat malam yang sedikit lebih kelam dari biasanya.

Entah seberapa banyak gemintang yang kemudian menutup kilau terindah saat aku bahkan berhenti pada fasa mati benderang.

Entah seberapa banyak yang kemudian bertanya, “Kamu menyembunyikan sesuatu?”

Kataku, “Sama sekali tak ada.”

Ia bertanya lagi, “Kemudian bohong menjadi pilihanmu, kah?”

“Apa Aku tampak sedang menutupi sesuatu yang bahkan aku tak tahu?”

“Jangan bertanya padaku. Tanyakan hatimu. Bagaimana kabarnya ia sebenarnya?”

“…….” Aku memilih diam dan menunggu surya menggantiku.



******

Rasanya memang sesak. Bohong kalau ternyata tak ada yang saya tutup-tutupi. Bohong kalau saya bilang tidak ada apa-apa. Saya hanya tidak ingin bercerita. Walau nyatanya ini malah membuat saya semakin menjadi bukan saya. menahan sesuatu, menyembunyikan perasaan itu bukan saya. saya orang yang biasa melepas perasaan. Saya orang yang biasa menyampaikan emosi.

Belakangan ini, apa saya ingin menjaga perasaan orang lain?
Apa saya ingin berbuat sesuatu untuk orang lain?
Apa saya begini untuk menghargai orang lain?

Apa ini namanya perubahan?

Nyatanya, seberapa banyak pertanyaan yang nantinya saya tuliskan, hanya saya sebenarnya yang bisa menjawab. Tidak ada orang lain yang kemudian menanggung atau membaca apa yang saya rasa, atau mungkin apa yang saya rasakan. Manusia tidak akan pernah melebihi batas manusia.

Saya, bersembunyi untuk menenangkan diri kemudian.

foto from here

2 komentar:

Teguh Kurnaen mengatakan...

kadang sebagian memang harus hanya kita yang menyimpannya. :D
event blogger: menulis di blog dapet android, ikutan yuk!

Awaludin Nandar mengatakan...

Tak peduli seberapa terang,tapi aku akan selalu disini menunggumu kembali benderang. Walau sekedar cahaya kecil yg menyelimuti keberadaanmu. Ila :)