Selasa, 30 Agustus 2011

First Love


Cinta pertama.

Padahal Cuma dua kata, tapi panjangnya gak sebatas dua kata atau sejumlah dua belas aksara. Saya mungkin salah satu yang percaya cinta pertama gak pernah mati. Hoho mungkin bahasanya bukan ‘gak’ tapi belum. Apa emang gak akan mati ya?

Ini cerita, mulanya sejak saya kelas delapan. Yap! Jaman SMP, kira-kira tahun dua ribu enam. Saya suka sama … hmmm sebut saja Raynar, kurang lebih satu tahunan. Saya gak pernah cerita sama siapapun tentang ini. Dan ternyata dia juga suka sama saya dengan kurun waktu yang hampir sama. Akhirnya tahun dua ribu tujuh bulan dua hari ke dua, kita resmi jadian. Ini pertama kalinya saya suka sama orang, memendamnya sendiri, dan ternyata dia balik suka, bahkan berani untuk ‘menjaga’ saya. yaaaa … walau emang kilasan anak SMP, yang katanya Cuma cinta monyet.


Nah, di bulan ke enam kita jadian, kita harus rela LDR karena saya harus sekolah di luar kota. LDR-an kira-kira 11 bulan, gak lama kita putus.

Jarak.
Katanya karena satu kata berjumlah lima aksara ini kita putus.

Yang membuat dia berkesan sampai dengan tanpa sengaja saya jadikan cinta pertama adalah:
  1.  Dia sabar. Untuk anak umuran lima belas tahun, lumayan laaah bikin salut. Saya Cuma bisa pulang ke rumah paling enggak 3 minggu sekali, dan itu pun belum tentu ketemu dia. Tapi dia masih bilang, “Yaudah, gak apa-apa gak ketemu juga.”, walaupuuunnn … .
  2. Dia setia. Ini yang bikin saya nyesel banget akhirnya malah putus. Emang dasarnya Raynar orangnya dingin sama perempuan, nah, pas kita LDR ini, dia bahkan suka digodain kalau dia HOMO L. Saking dinginnya sama perempuan. Tapi bodohnya saya masih bisa nanya, “Kamu lagi suka sama cewek lain ya?”. Tuhaaaaannnn, perempuan gak tau diri macem apa coba ini.
  3. Dia yang pertama mengenalkan pada saya bagaimana ‘pacaran’, bagaimana rasanya ‘kangen’, atau menghabiskan waktu yang (mungkin) gak berguna. Bahkan ketika saya dua tahun pacaran dengan pria yang disebut  Sadam, bayangan Raynar masih aja kuat. Kalau kabar dia deket sama perempuan lain, saya masih suka cemburu, apapun tentang dia masih saya suka. Apapun tentang dia masih tergambar.

Dan ini udah tahun ketiga saya dan raynar putus, tapi saya masih belum bisa bersikap biasa kayak dulu kita sebelum pacaran. Masih ada canggung.


Kadang masih terbesit, “Raynar, mungkin gak kalau kita mulai lagi dari awal?”

1 komentar:

Febriasop mengatakan...

...saya hanya bisa bilang, "itu 'kan masa lalu, sudahlah, lupakan saja." :( :(

Illa udah pernah coba tanya ke Raynar gimana perasaan dia saat ini?

*berharaplah Raynar membaca blog ini*