Selasa, 01 Desember 2015

[cerpen] Autumn

photo from here

***


“Terimakasih.”
Aku tutup kembali daun pintu yang hanya terbuka tiga kali dalam sehari ini setelah selesai bertransaksi dengan pengantar makanan siap saji. Rasanya tidak mudah hidup dalam waktu yang serba dibatasi deadline yang perlahan membuatku muak. Hah! Tapi kalau tak begini, bagaimana aku hidup? Pilihanku sebagai penulis serabutan memang bukan hal yang mudah diterima, sedang ilmu yang bersarang dikepalaku selama empat tahun kuliah adalah polimer, kimia, organik, kalor dan ... aahh kau tak akan mengerti kadang hidup memang harus seperti ini. Tergelitik? Kalau tidak, kembali lagilah pada pertanyaan bagaimana aku akan bertahan hidup.



“... CHAPTER 21: Kita adalah Autumn
Andai saja kau benar-benar memahami alasanku menyukai musim gugur yang indah ini, mungkin kau tak akan tega membiarkanku hidup bersama bayanganmu yang sudah habis dimakan waktumu sendiri. Romantisme diantara kuncup bunga crocus dan krisan yang bermekaran menghantarkan aku pada pelukan maya yang kubuat nyata dalam benak. Hangat tubuhmu yang kurasa, kubuat seolah kau memang merangkulku berjalan diantara pohon maple dengan daun yang menjingga. Perbincangan ringan yang menghangatkan suhu delapan derajat celcius disela tawa dan cubitan manja diperutmu, masih tergambar jelas bagaimana siratan dan rasanya. Sam, aku rindu. Bagaimana kabarmu disana? ...”


“Kenapa begini rasanya?” aku letakkan lagi pizza yang kupesan tadi. Hambar. Tidak enak. Bagaimana bisa tidak seenak biasanya?!! Srreeekkk. Bunyi seretan kursi yang tak lagi bersahabat menjadi satu-satunya bunyi lain yang tidak berasal dari tubuhku. Rintihan kelaparan masih saja meraung dengan jelas saat kembali kurebahkan tubuhku di ranjang besi yang mungkin seumuran denganku ini.
“Aaaargh! Apa boleh buat, aku lapar!” ku langkahkan lagi kakiku menuju potongan-potongan pizza diatas singgasanaku, meja dengan ukuran dua kali satu meter yang multifungsi dilengkapi dengan lipatan lcd dan keyboard hitam dua belas inch sebagai satu-satunya penyambung hidup dan matiku, laptop. Srreekkk.


“... Hari ini, disaat yang sama dengan waktu aku antar kau ke peraduan terakhirmu, aku akan habiskan waktu ditempat yang sama-sama kita sukai. Di tepi danau dengan semilir angin musim gugur yang merontokkan dedaunan yang tak hijau lagi. Tidak ada yang ingin aku lakukan dalam waktu-waktu dimana kau seolah-olah masih ikut duduk disampingku. Sayang, aku hanya ingin mengadukan segala cerita yang tak pernah kau tanggapi lagi setahun terakhir ini. Aku hanya ingin melihat air wajahmu yang berubah-ubah setiap kali ku ceritakan kisah yang berbeda. Adakah waktu dapat kuputar kembali, sayang? Aku tidak sendiri kan?...”


“Jelas-jelas kau sendiri, Autumn! Aku benci kalau pada akhirnya ini ending yang aku pilih. Mengapa orang-orang begitu menyukai ending yang sengaja dibuat menderita dengan rangkaian alur sedemikian rupa sampai akhirnya kembali bahagia atau bahkan tak ku biarkan bahagia??”


Ctrl+S.


“... Aku mengelus halus punggung mu yang merupakan bagian favoritku saat kita duduk diantara bunga krisan yang kau sukai.
‘Sama-sama, Sayang.’ Katamu.
‘Bagaimana kau bisa tau aku dalam hati mengucapkan terimakasih?’ tanyaku seolah ini baru pertama kalinya.
‘Sudah berapa lama kita dekat dan kau masih menanyakan hal itu? Sayang, bahkan ketika kau akan buang anginpun aku tahu.’ Lagi-lagi katamu menggodaku.
Aku tersenyum kecil, ‘Sam, mengapa kau suka sekali bunga krisan?’ tanyaku tiba-tiba.
‘Kau tau, beberapa orang mempercayainya sebagai lambang kebahagiaan, cinta, panjang umur, dan kegembiraan. Aku ingin hidup seperti bunga krisan untukmu. Dengan cinta dan kebahagiaan, kita akan hidup berdua dengan waktu yang lama dengan kegembiraan-kegembiraan kecil yang tak ada habisnya.’
Lagi-lagi aku tersenyum bahagia, ‘Dan karena itulah aku menyukai musim gugur seperti kau menyukai bunga krisan.’ ...”


Ctrl+S.


“... Tak akan habis waktuku dengan membiarkanmu terus hidup bersamaku, meski kau sudah tiada. Tak akan habis nyawaku dengan hanya menghirup nafasmu. Rasanya seperti radio rusak dengan putaran lagu yang sama, namun dengan irama yang sudah berbeda. Tahun-tahun kedepan mungkin akan menjadi tahun yang berat bagiku, tapi jangan kau minta aku untuk berbahagia tanpamu. Kau sudah tahu dengan jelas, saat-saat bahagiaku hanyalah bersamamu. Sam, tapi bolehkah aku lelah berharap kau kembali? Bolehkah aku putus asa kalau kau tak akan pernah hidup lagi? ...”


Ctrl+S.


“... ‘Sam! Sam! Kau tidak boleh bercanda! Ini bukan hal sembarangan! Sam! Sam, bangun! Kau tidak boleh pergi!’ ...”


Ctrl+S. Windows. Shut down.


Srreeekkk.
Ku telanjangi habis-habisan seisi ruangan empat kali lima dengan penataan terburuk ini, hanya ada singgasanaku, rak buku, ranjang besi tua, lemari, dan sampah makanan cepat saji. Bagaimana bisa aku tahan hidup terkukung dalam ruangan yang bahkan hanya memiliki ukuran jendela satu kali satu meter ini? Bagaimana bisa aku mengatur pernafasanku dengan ventilasi yang bahkan sudah rapat tertutup debu?


“Sepertinya aku butuh keluar.”


Hari di musim gugur memang indah, sama halnya dengan hari di musim semi yang hangat. Ranggasan dedaunan yang tak lagi hijau menambah cantik sepanjang jalan menuju kedai kopi favoritku.


“Kau tau apa yang ingin ku minum, kan?”
“Kau sendiri?” pertanyaan retoris, sanggahku dalam hati.
“Tak usah kau tanya, kau bisa lihat sendiri.” Jawabku dingin.
“Ini sudah enam tahun, kau tak mau coba dengan pria lain? Bagaimana hubunganmu dengan Ray?”
“Aku tidak tertarik.” Sambil kusesapi pelan-pelan kopi buatan sahabatku ini.
“Kau terlalu naif untuk mengakui bahwa kau mulai menyukainya. Lihatlah bagaimana ia tak pernah merasa kau belum juga bisa melupakan Sam?!”
“Antony, kau selalu tau alasanku datang ketempatmu, kan? Kalau aku bisa jahit mulutmu, akan ku lakukan sebelum masuk kedaimu, sayangnya aku tidak bisa. Aku tak mau bicara soal Ray atau Sam lagi.”
“Kau payah, Autumn!”




TAMAT

***





Nur Illahiyah Munggaran
Pandeglang, 01 Desember 2015
nb: terkait informasi dalam cerpen diambil randomly from google